Bangka Selatan, Babel – Desa Pangkal Buluh Kecamatan Payung merupakan salah satu di Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Bangka Belitung penerima program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat, atau Pamsimas tahun anggaran 2019. Desa dapat dicapai dengan kendaraan darat dengan waktu tempuh sekitar 90 menit dari ibukota kabupaten, Toboali dengan kondisi jalan relatif bagus.

Desa Pangkal Buluh dihuni 801 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 3.000 jiwa. Mata pencaharain warga desa ini kebanyakan berkebun dan sebagian lagi merupakan pekerja tambang timah tradisional. Sebelum adanya program Pamsimas, masyarakat sedikit kesulitan mendapatkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari (makan-cuci-kakus). Pada musim hujan air tersedia secara berlimpah, namun ketika kemarau datang tidak jarang warga harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari karena sumur warga mulai mengering. Warga harus rela merogoh kocek Rp 30-40 ribu untuk satu drum air.

Warga desa ini masih ada yang menggunakan air parit untuk mandi dan mencuci. Warga memagari parit dengan tembok untuk menjaga privasi. Warga tetap merasa khawatir akan kebersihan air tersebut karena dari warna air dan baunya. Namun sepertinya warga tidak punya punya pilihan lain karena air sumur yang menjadi andalan warga tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga berharap pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) melalui program Pamsimas cepat selesai sehingga air dapat segera dapat dinikmati warga dan tidak ada lagi kesulitan mendapatkan air di kala kemarau. Saat ini pembangunan SPAM di Desa Pangkal Buluh masih dalam tahap finishing, mengingat ada keterlambatan pencairan dana Pamsimas karena masalah administrasi (SK Satker).

Adalah Abu, laki-laki lansia 93 tahun, yang ‘keranjingan’ mengikuti setiap tahapan kegiatan Pamsimas. Kakek tersebut terlibat aktif mulai dari sosialisasi, IMAS I dan II sampai kegiatan promosi kesehatan, penyuluhan PHBS dan kampanye Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Meski sudah uzur dan susah berjalan serta sulit bicara, tidak mengurungkan niatnya untuk terlibat dalam setiap tahapan kegiatan Pamsimas. Ia hampir selalu hadir dan terlibat secara aktif dalam kegiatan Pamsimas yang diadakan oleh KKM, Satlak dan fasilitator masyarakat. Ia tak pernah malu, meski sudah tergolong uzur dan ingin tetap tampil dan mempraktekkan apa-apa yang diinstruksikan oleh sanitarian Puskesmas.

Kakek ini sudah terbiasa buang air besar di jamban (ada jamban di rumahnya). Namun untuk urusan cuci tangan pakai sabun (CTPS), ia tidak biasa melakukannya. CTPS pakai sabun biasa dilakukan setelah makan, sedang pada waktu-waktu penting lainnya tidak dilaksanakan. Namun, sejak mengikuti kegiatan kampanye CTPS, kakek ini menjadi ketagihan mencuci tangan pakai sabun. Bahkan ia mengajak anak-anak usia sekolah untuk selalu menumbuhkan kebiasaan CTPS pakai sabun pada waktu-waktu penting. Kakek meminta anak-anak sekolah agar terhindar dari penyakit sebaiknya CTPS pakai sabun dilakukan sebelum/sesudah makan dan setelah buang air besar.

Gak beda jauh dengan Abu, Rohani wanita 38 tahun dengan tinggi badan hanya 111 centimeter.  Karena tubuhnya cukup pendek, hampir sama dengan rata-rata anak-anak taman kanak-kanak, ia agak kesulitan dalam melakukan aktifitas fisik. Rohani bukan warga Desa Pangkal Buluh tetapi dari Desa Bedegung, masih di Kabupaten Bangka Selatan yang juga merupakan desa penerima program Pamsimas tahun 2019. Rohani juga aktif mengikuti setiap kegiatan Pamsimas, terutama dalam kegiatan yang berhubungan dengan promosi kesehatan dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Rohani berjanji akan selalu menularkan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah diajarkan sanitarian, bidan desa dan fasilitator masyarakat kepada para tetangga dan anak-anak sekolah dasar yang tinggal di sekitar rumahnya.

Kepala Desa Pangkal Buluh dan Desa Bedegung berharap dengan adanya program Pamsimas, warga di desanya tidak hanya menikmati air bersih yang berkualitas, tetapi juga terbiasa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti kebiasaan buang air besar di jamban dan mempraktekkan CTPS pakai sabun pada waktu-waktu penting.  Dengan kemudahan dalam mendapatkan air berkualitas dan membiasakan diri dengan berperilaku hidup bersih dan sehat, kedua desa ini diharapkan akan terhindar dari risiko stunting atau pertumbuhan kerdel/pendek (Efrizal Alpansi,ST-DC Bangka Selatan dan Hanifah, SKM-TA STBM Babel/Hartono Karyatin-Media Sp PAMSIMAS).