Tuban, Jawa Timur – Wabah Corona Virus Disease tahun 2019 atau lebih dikenal dengan COVID-19 memberi dampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di lebih dari 210 negara/kawasan termasuk di Indonesia. Dampak tersebut juga dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Tuban, satu dari puluhan kabupaten di Jawa Timur yang menjadi lokasi program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).

Asosiasi Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Perdesaan (Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan) ‘Ronggolawe’ Kabupaten Tuban, menunjukkan kepeduliannya terkait dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan virus tersebut. Asosiasi merupakan wadah berhimpun bagi Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (KPSPAMS) dan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum dan Sanitasi (HIPPAMS) tingkat desa. KPSPAMS merupakan pengelola sarana air minum hasil kegiatan Pamsimas.

Asosiasi ikut ambil bagian melakukan upaya pencegahan penyebaran COVID-19 dengan secara aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman terkait bahaya virus COVID-19 dan upaya pencegahannya. Dalam kegiatan sosialisasi tersebut ditekankan pentingnya selalu menggunakan masker saat beraktifitas di luar rumah, rajin melakukan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir maupun penggunaan hand sanitizer.

Untuk meringankan beban ekonomi akibat dampak COVID-19, sejumlah anggota Asosiasi memberikan potongan harga (discount) tarif air. Para pelanggan air perdesaan baik yang dikelola KPSPAMS maupun HIPPAMS mendapatkan potongan tarif air sebesar 50% untuk tagihan bulan April dan Mei 2020. Setidaknya discount tersebut diberikan kepada pelanggan air Desa Dinggil di Kecamatan Jati Roso; Desa Margomulyo dan Sumber Urip di Kecamatan Regel, dan beberapa desa di Kecamatan Parengan.

Lain halnya yang dilakukan HIPPAMS ‘Tirto Moro’ Desa Tegal Rejo di Kecamatan Merakurak, yang membagikan 5 kg beras kepada setiap pelanggan air dengan menunjukkan bukti pembayaran air bulan Maret 2020. Seperti dituturkan Suratdy, Ketua HIPPAMS Desa Tegal Rejo, sebanyak 1.219 Kepala Keluarga mendapatkan beras secara gratis yang dibeli dari uang kas HIPPAMS. Tindakan ini patut dicontoh bagi anggota HIPPAMS/KPSPAMS lain yang ada di Kabupaten Tuban.

HIPPAMS ‘Tirto Moro’ menerapkan tarif air secara progresif kepada para pelanggannya; pemakaian air 1-15 m3 dikenakan biaya Rp 4.000/m3 dan pemakaian 16-10 m3 dikenakan biaya Rp 5.000/m3, ditambah biaya beban Rp 5.000 per bulan per Sambungan Rumah (SR).

Setiap bulannya HIPPAMS ‘Tirto Moro’ mampu mengumpulkan uang iuran sebesar Rp 26,5 juta. Pendapatan kotor sebesar itu setelah dikurangi biaya operasional dan biaya lainnya, masih menyisakan pendapatan bersih sekitar Rp 8,5 juta per bulan yang masuk ke kas HIPPAMS. Uang kas tersebut sewaktu-waktu dapat digunakan untuk biaya pemeliharaan termasuk penggantian sarana yang rusak, dan sebagian dikembalikan kepada para pelanggan dalam bentuk bantuan beras guna meringankan warga yang terkena dampak COVID-19.

Salah satu kunci keberhasilan KPSPAMS/HIPPAMS adalah adanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan organisasi. Setiap tahunnya pengurus KPSPAMS dan HIPPAMS menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan organisasi kepada masyarakat dengan melibatkan Pengurus Asosiasi Kabupaten Tuban. “Rapat tahunan tersebut turut dihadiri pengurus Asosiasi yang memberikan arahan dan info baru seputar akses pendanaan serta memberikan konsultasi bagi anggotanya,” ujar Sulton, Ketua Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Kabupaten Tuban, yang juga menjadi fungsionaris pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi.

Asosiasi menjadi wadah yang efektif untuk berhimpunnya KPSPAMS dan HIPPAMS. Kedua kelompok organisasi tingkat desa yang mengurusi air minum tersebut dapat hidup berdampingan secara baik di bawah naungan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan ‘Ronggolawe’ Kabupaten Tuban.

Salah satu peran Asosiasi SPAMS Perdesaan adalah memberikan pembinaan dan mengkordinasikan anggotanya dalam hal kelembagaan, administrasi dan keuangan, teknik, serta menfasilitasi kebutuhan anggota dalam mewujudkan 100% akses pelayanan air minum dan sanitasi di wilayahnya.

Setiap tiga bulan sekali Pengurus Asosiasi mengumpulkan anggotanya (KPSPAMS dan HIPPAMS) untuk mengadakan pertemuan atau rapat rutin. Dalam pertemuan rutin tersebut dibahas issue dan permasalahan yang dihadapi para anggotanya.

Pertemuan tiga bulanan tersebut digelar di desa di tempat salah satu anggotanya dan lokasinya digilir dari satu desa ke desa lainnya agar saling mengenal antardesa. Rapat menghadirkan narasumber yang kompeten dari lingkungan pemerintah daerah, termasuk menghadirkan Ketua/anggota DPRD Kabupaten Tuban. Kehadiran aparat pemerintah daerah dan anggota dewan setempat yang merupakan penentu kebijakan daerah, diharapkan dapat menyerap secara langsung keluhan yang disampaikan para pengelola SPAMS setempat.

Saat ini Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan “Ronggolawe” Kabupaten Tuban menaungi anggotanya yang tersebar di 127 desa di Kabupaten Tuban, terdiri dari 64 KPSPAMS dan 63 HIPPAMS yang ada di tingkat desa.

Asosiasi turut berperan menghantarkan Desa Bulurejo di Kecamatan Rengel dapat mencapai 100% akses air minum. Sebagaimana dituturkan Amin Riadi, Ketua HIPPAMS ‘Sumber Urip’ Desa Bulurejo, sebanyak 600 Sambungan Rumah (SR) yang dikelolanya mampu menyediakan pelayanan bagi seluruh warga desa yang berjumlah 5.545 jiwa atau 1.555 KK. Terwujudnya 100% akses air minum di desa tersebut berkat kolaborasi pendanaan dari APBN, APBD, dan APBDesa.

Selain pendanaan dari pemerintah (APBN, APBD, dan APBDesa), sejumlak KPSPAMS/HIPPAMS dengan difasilitasi Asosiasi, mulai memanfaatkan sumber dana dari perbankan/lembaga keuangan mikro untuk mewujudkan pelayanan air minum 100% bagi seluruh warganya. Setidaknya, sampai bulan Mei 2020, sebanyak 5 KPSPAMS/HIPPAMS di Kabupaten Tuban menerima kucuran kredit dari lembaga keuangan mikro dengan total pinjaman Rp 150 juta. Pinjaman dari bank tersebut digunakan untuk pengadaan jaringan pipa distribusi, pembelian pompa baru, pembuatan sumur bor baru, pengerukan, dan penggantian filter air.

Kucuran kredit kepada kelembagaan masyarakat seperti KPSPAMS/HIPPAMS menunjukkan bukti ada kepercayaan perbankan/lembaga keuangan kepada lembaga yang dikelola masyarakat secara baik, transparan, dan akuntabel. Hal ini merupakan hal yang positip dalam menggali sumber pendanaan dari luar dalam mewujudkan KPSPAMS/HIPPAMS yang mandiri dan mampu mewujudkan 100% akses air minum bagi seluruh warga desa (Sri Yuliati-NMC/Hartono Karyatin-Media Sp PAMSIMAS).