Magelang, Jawa Tengah – Senior Director Global Practice Water – Bank Dunia, Mr. Guang Zhe Chen mengunjungi lokasi Desa PAMSIMAS di Kabupaten Magelang Jawa Tengah (12/1).  Dalam kunjungannya, ia ditemani oleh East Asia Pacific (EAP) Practice Manager, Mr. Sudipto Sarkar, dan Lead Municipal Engineer Social, Urban, Rural and Resilience Global Practice – Indonesia, George Soraya, serta sejumlah Staf Bank Dunia Indonesia. Turut hadir pada kunjungan tersebut, Ketua CPMU PAMSIMAS Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Tanozisochi Lase dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Wilayah II Satuan Kerja PSPAM, Diah Prameshwari, serta perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Magelang yang terlibat pada program PAMSIMAS.

Kunjungan dimaksudkan untuk membahas upaya Pemeritah dan Pemerintah Daerah dalam mencapai target akses aman air minum dan sanitasi untuk kawasan pedesaan.

Satu hari sebelum kunjungan,   dilakukan rapat koordinasi membahas persiapan kunjungan.  Rapat di Kantor PPMU Pamsimas Provinsi Jawa Tengah dipimpin Sigit Krida Hariono, Ketua PPMU Pamsimas Jawa Tengah dan dihadiri Ketua CPMU Pamsimas Tanozisochi Lase, PPK Pamsimas wilayah II  Diah Prameshwari, Perwakilan Bank Dunia Indonesia, Dea Widyastuti, Bappeda, Satker PSPAM, NMC dan ROMS 8 Jateng.  Ketua PPMU minta kepada semua unsur PPMU baik dari Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas PU dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kependudukan Pencatatan Sipil (Dispermasdesdukcapil) yang juga hadir pada pertemuan tersebut untuk bisa mendampingi kunjungan tersebut.

Desa pertama yang dikunjungi Tim Water Global Practice – Bank Dunia adalah Desa Paripurno di Kecamatan Salaman Magelang. Desa berada di 9,1 km dari Candi Borobudur  dan dengan jarak tempuh kira-kira 35  menit menggunakan kendaraan bermotor.  Desa dengan jumlah penduduk 3.668 jiwa ini,  56,7% warganya tergolong miskin.

Tim Bank Dunia ditemui perwakilan Pemerintah Kabupaten Magelang yang diwakili  Ketua DPMU Pamsimas Heriyanto beserta anggotanya, perangkat desa, bidan desa, Pengurus BP SPAMS dan masyarakat penerima manfaat program Pamsimas. Dalam paparannya, Kepala Desa Paripurno, Ikhwan (48 th) menyampaikan kondisi sosial desa yang dipimpinnya tergolong miskin dengan sebagian besar sebagai petani. Sebelum ada program Pamsimas masyarakat memanfaatkan air sumur dangkal/gali dengan kedalaman kurang dari 15 m. Pada musin kemarau sumur kering sehingga penduduk harus mengambil air menggunakan jerigen menempuh jarak sekitar 1 km.

Tahun 2014 Desa Paripurno memperoleh program Pamsimas berupa pembangunan sumur bor, reservoir, rumah panel, pipa transmisi dan distribusi, dan 4 tempat cuci tangan di sekolah.  Program tersebut hanya mampu melayani kebutuhan air minum di 2 dusun dari 7 dusun yang ada, yaitu dusun Komboran dan dusun Gombong. Untuk menjangkau dusun lainnya, KKM bersama pemerintah desa mengajukan permohonan APBD dan bantuan air minum ke Dinas ESDM.  Permohonan disetujui Pemerintah Kabupaten, dimana pada  tahun 2017 mendapatkan alokasi APBD perubahan senilai Rp. 200 juta berupa sumur bor, tower, dan  pipa yang di dukung oleh 10% dana APBDes, 4% in cash dan 16% in kind.  Dinas ESDM di tahun yang sama  mengucurkan bantuan berupa sumur bor dalam, sedangkan  untuk jaringan perpipaan guna menjangkau dusun Kalisat dan dusun Kebunmentok  baru akan dianggarkan melalui alokasi dana APBDes tahun 2018 ini.  Pemerintah Desa sendiri pada tahun 2018 telah mengalokasikan dana Rp 10 juta untuk pembangunan jamban umum untuk mengurangi kebiasaan BABS.

Sampai saat ini Desa Paripurno belum mencapai akses aman air minum 100%.  KKM dan BPSPAMS bersama pemerintah desa berkomitmen untuk mewujudkan Akses Universal di desanya pada tahun 2019.  “BP SPAMS selaku pengelola sarana pasca-program Pamsimas baru dapat melayani 221 KK dari 918 KK dengan tarif yang sangat murah, yakni abonemen Rp. 3.000 dan untuk pemakaian 0-10 M3 dikenakan biaya Rp. 1.000, 10-20 M3 Rp. 1.500, dan 20-30M3 Rp. 3.000,” imbuh Sodiq Suroto Ketua I BP SPAMS Sido Mili.

Setelah paparan Kepala Desa,  Mr. Sudipto Sarkar selaku Practise Manager East Asia Pacific (EAP) mewakili rombongan menyampaikan maksud dan tujuan ke desa Pamsimas untuk melihat program penyediaan air minum.  Pamsimas yang merupakan program dengan skala besar menjangkau  27.000 desa di seluruh Indonesia, akan  memberikan dampak positif  perbaikan  sanitasi dan kesehatan masyarakat. Selain itu, dengan akses air minum yang semakin mudah, masyarakat memiliki waktu lebih banyak untuk melaksanakan kegiatan produktif. Mr. Sudipto juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Desa hingga  Pemerintah Pusat dan masyarakat atas kesuksesan program ini.

Dewa dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, menyampaikan, capaian akses sanitasi Desa Paripurno masih rendah sekitar 35%. Sanitasi harus menjadi perhatian dalam program penyediaan air minum. Dewa mengingatkan perlunya meningkatkan peran Bidan Desa dan Pemerintah Desa untuk mewujudkan 100% akses sanitasi yang layak.

“Kami selaku bidang desa bersama kader desa akan mempercepat peningkatan akses sanitasi.  Untuk itu kami minta dukungan dari Pemerintah Desa agar rencana tersebut segera terwujud,” tutur Himmatul Khoiriyah selaku Bidan Desa merespon permintaan Dinas Kesehatan Provinsi.

Ketua CPMU Pamsimas Tanozisochi Lase menyampaikan strategi dalam Pamsimas dengan memberikan penyadaran  terlebih dulu kepada masyarakat tentang pentingnya sanitasi yang baik.  Apabila masyarakat sudah sadar maka secara otomatis kebutuhan akan pentingnya air bersih akan muncul dari masyarakat.

“Perlu percepatan akses sanitasi dengan beberapa strategi misalnya dengan membangun jamban sehat secara swadaya; bagi yang miskin diberikan bantuan pembangunan jamban.  BP SPAMS diharapkan mengeluarkan aturan, setiap permohonan sambungan rumah (SR), maka warga wajib membangun jamban lebih dulu dan setelah itu SR baru direalisasikan,” usul Sigit Krida Hariono, Ketua PPMU Pamsimas Jawa Tengah.

Di akhir diskusi ada pertanyaan menggelitik dari Lead Municipal Engineer Social, Urban, Rural and Resilience Global Practice – Indonesia, George Soraya, dengan pertanyaan : “Apakah Bapak dan Ibu mau apabila mengambil air jarak 1 km dibayar Rp. 1.000?” Secera serentak hadirin menjawab “tidak”. Selanjutnya menanyakan harga 1 batang rokok dan dijawab oleh hadirin Rp. 1.500. George Soraya menyampaikan keheranannya atas kondisi yang tidak logis, dimana air yang menghidupi kita dihargai lebih murah dibandingkan sebatang rokok yang jelas-jelas dapat membunuh manusia. Pengurus BPSPAMS Sido Mili menyampaikan respon positip,    akan mengevaluasi dan meninjau kembali penetapan tarif air dengan tetap mempertimbangkan kondisi dan kemampuan warga.

Diskusi berlanjut ketiga rombongan menyambangi warga di dusun Gombong.  Kini, rumah warga sudah terpasang meteran air dan ketika kran dibuka air mengucur deras. Sejumlah warga yang ditemui rombongan, antara lain ibu Umaroh (55 th), ibu Saripah (50 th) dan ibu Kustini (48 th), dengan gembira menuturkan bahwa saat ini sangat mudah mendapatkan air bersih, tinggal membuka kran air di rumah.

Warga menceritakan kondisi sebelum ada Program Pamsimas, saat kemarau datang harus mencari air berjalan sekitar 1 km sambil meng-gendong jerigen. Warga perempuan yang setiap harinya bekerja di tempat pembuatan bata ini,  menyampaikan bahwa saat ini capeknya berkurang karena tidak lagi bertugas mencari air.

Namun sangat disayangkan, walau akses air bersih sudah didapatkan dengan sangat mudah, mereka masih BAB di sungai dengan alasan tidak ada biaya untuk membuat jamban. Kondisi ini menjadi tantangan bagi semua pihak baik pemerintah desa, bidan desa, BP SPAMS untuk memberikan penyadaran pentingnya sanitasi yang baik.  (Shodiq-DC Kab Magelang dan Sri Wahyuni – TA CD CB ROMS 8 Jateng/Hartono Karyatin-Advocacy & Media Sp.)