Bener Meriah, Aceh– Desa Jongok Meluem merupakan desa sasaran Program Pamsimas 3 tahun anggaran 2017 yang bersumber dari dana APBK. Menurut Mukhlis Kepala Desa (Reje) Jongok Meluem  jika diartikan dalam bahasa indonesia dapat berarti burung pengintai , desa ini mendapat pendanaan Rp100.833.000 yang dicairkan mulai 10 Oktober 2017 dari kas daerah ke rekening KKM. Mayoritas penduduk desa ini merupakan petani kopi Arabica Gayo yang terkenal di seluruh dunia dan juga terkenal dengan daerah yang mengalami kesulitan air bersih layak untuk penunjang kehidupan sehari-hari.

Desa Jongok Meluem ini berada di ketinggian 1420 Mdpl dengan kontur perbukitan, secara administratif desa ini masuk dalam Kecamatan Bener Kalipah. Sarana air bersih masyarakat dulunya bersumber dari aliran air di pinggir jalan lintas kabupaten, jika hujan airnya bercampur lumpur dan kotoran jalan, jika kemarau airnya kering, begitu yang disampaikan Aswandi yang saat ini dipercaya sebagai koordinator KKM. Secara teritorial daerah, Desa Jongok Meluem memiliki sumber air, namun selama ini tidak dapat mereka nikmati, karena berada di bawah perkampungan, dengan elevasi 30 meter. Keinginan untuk mendistribusikan air tersebut telah dimulai sejak tahun 2015, namun terkendala oleh kemampuan sumber daya dan pengetahuan untuk merencanakan dan membangun. Keinginan tersebut mulai memperlihatkan titik terang semenjak Program Pamsimas masuk pada tahun 2016.

Perjalanan untuk merealisasikan keinginan mulia tersebut cukup banyak rintangan yang harus dihadapi, antara lain mata-mata air yang ada, telah dimanfaatkan oleh desa-desa tetangga di kecamatan lain, sehingga membangun di sisa lahan yang tesedia. Selain itu adanya keterlambatan dalam terbitnya DIPA Revisi APBK, namun berkat kerjasama antara masyarakat, KKM, perangkat desa dengan pemdampingan ROMS dan fasilitator, maka pada awal 2018 desa “burung pengintaitelah dapat dialiri oleh air. Selama ini mereka hanya bisa melihat air mereka dimanfaatkan oleh desa lain, melihat bangunan-bangunan penangkap air desa lain, hingga mereka ibarat tamu di rumah sendiri.

Dalam penyediaan pompa untuk menaikkan air menuju reservoar cukup terkendala juga dimana ketiadaan pemasok pompa di sekitar kabupaten dan ketiadaan teknisi pompa dengan head yang besar. Kendala lainnya yang tak kalah penting, dimana terjadi 3 kali penggantian dan pengiriman pompa oleh pemasok ke teknisi, dimana pompa pertama dengan type jetpump 40/40 namun tidak dapat menarik air. Selanjutnya diganti dengan pompa Submarsible namun terkendala dengan ketersediaan listrik karena desa ini merupakan ujung akhir dari layanan PLN, dimana pompa yang dikirim butuh listrik 3 phasa dengan volt 6600. Berdasarkan kajian bersama maka pompa tersebut tidak jadi dipasang, mengingat harus menambah daya, serta kajian perhitungan tarif air juga akan berpengaruh. Pompa ketiga adalah pompa Sentrivugal Multistage dengan listrik 1400 watt, 1 phasa dengan head 54 meter. Kendala yang diluar pikiran rasional juga ditemui, maka kearifan lokal disini dibutuhkan untuk meminimalisirnya. Pompa inilah yang beroperasi hingga sekarang dengan pelayanan 69 sambungan rumah yang dilengkapi meteran air.

Meteran air ini merupakan dana tambahan dari anggaran dana desa untuk air bersih, dengan harapan akan muncul keadilan dalam pemakaian dan kenyamanan bersama. Reje dan KKM berencana pengelolaan oleh BP-SPAMS ini nantinya akan berada dibawah payung BUMK unit pengelolaan air bersih.

Sarana yang dibangun telah ditinjau pemanfaatannya oleh Rahmadani, S.T., M.T. selaku  ketua Pakem Program Pamsimas Kabupaten Bener Meriah beserta tim. Harapan dari Ketua Pakem agar sarana dikelola dengan baik dan dijadikan contoh pada desa-desa lain dalam pengelolaan sarana air bersih berskala desa.

Berdasarkan hasil musyawarah masyarakat ada hal yang perlu dicontoh, dimana adanya aturan jika ada masyarakat yang menyambung sendiri air ke rumah atau ke tempat lain tanpa dilakukan oleh pengurus maka akan dikenakan denda 2 juta Rupiah. Iuran permeter kubik dikenakan Rp2.000 dan biaya beban tiap sambungan sebesar Rp5.000.

Keberfungsian sarana air bersih Desa Jongok Meluem juga telah ditinjau langsung oleh ROMS Propinsi yang diwakili oleh Iwan Dasrianto, S.T., M.T. selaku tenaga ahli bidang teknis. Beliau berdiskusi dengan perangkat desa, KKM, BP-SPAMS, FMA dan fasilitator untuk penekanan terhadap keberlanjutan sarana khususnya penerapan iuran pemakaian dan mengisyaratkan agar dapat menyediakan pompa cadangan sebagai pengganti jika pompa yang terpasang saat ini mengalami kendala ataupun kerusakan.

Iwan juga menyampaikan “agar musyawarah dan mufakat masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan, jika kebutuhan tinggi maka tiada yang berat untuk dijalani. Jangan lupakan kearifan lokal walaupun itu tidak rasional serta perlu pendampingan ekstra khususnya untuk lokasi yang membutuhkan teknologi seperti pompanisasi, kelistrikan. Bangkitkan gairah membangun kepada masyarakat dampingan, kolaborasi pendanaan dengan dana terdekat yakni dana desa dan tak kalah penting adalah pendampingan untuk keberlanjutannya”. (Mhd.Miftah Dc-Kab. Bener Meriah;Deddy s-WDA NMC)