Gayo Lues, Aceh – Dataran tinggi Gayo memiliki pemandangan indah yang menarik untuk dikunjungi sebagai lokasi wisata. Daerah yang terkenal dengan sebutan “seribu bukit” kaya dengan beraneka ragam budaya, salah satunya ‘Tari Saman’ yang mendunia dan diakui UNISCO.  Tari Saman merupakan kesenian asli Suku Gayo yang tinggal di Kabupaten Gayo Lues dimana terdapat Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL).

Tahun 2017 program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) mesuk ke Kampung Ekan (Desa, Red) Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues. Secara geografi, Kampung Ekan berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Timur, dapat dicapai melalui perjalanan darat dengan waktu tempuh ± 2,5 jam dari Ibukota Kabupaten. Lokasinya jauh dari pusat kota dan berada di kawasan terpencil, sehingga masuk sebagai daerah pendampingan desa remote.

Baramsah, Pengulu (Kepala Desa, Red) Kampung Ekan saat ditemui Tim Monitoring Pamsimas Kabupaten Gayo Lues, Sabtu (4/7) menceritakan, awal mula masuknya program Pamsimas tahun 2017 disambut antusias masyarakat Kampung Ekan untuk menyelesaikan setiap tahapan program. “Begini, pada saat pelaksanaan fisik tahun 2017 kontribusi masyarakat untuk in-cash dan bergotong royong dilakukan secara bersama-sama”, tambahnya.

Baramsah menambahkan, masyarakat Kampung Ekan sangat membutuhkan air minum yang layak. Selama ini warga Kampung Ekan menggunakan air untuk kebutuhan makan dan minum yang sejatinya tidak layak untuk dikonsumsi. Oleh karenanya masuknya program Pamsimas sangat didukung warga dan pemerintah desa.

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) perdesaan yang dibangun Pamsimas memanfaatkan sumber air baku dari mata air pegunungan yang berada ± 3 Km dari kampung, yang kemudian dialirkan ke permukiman warga secara grafitasi melalui jaringan perpipaan. Sistem ini mampu menghasilkan air minum dengan debit 2 liter per detik. Saat ini sarana berfungsi dengan baik dan dikelola oleh kelompok masyarakat melalui KPSPAMS.

Bersamaan masuknya program Pamsimas tahun 2017, pemerintah desa mengalokasikan dana desa untuk pengadaan 68 sambungan rumah (SR) yang merupakan setengah dari jumlah kepala keluarga di desa.

Tahun berikutnya (2018), pemerintah desa kembali mengalokasikan dana desa sebesar Rp 40 juta untuk mewujudkan 100% sambungan rumah (SR) bagi seluruh warga kampung. “Sisa 67 SR yang belum teraliri air Pamsimas, telah dipasang dengan sumber dana desa sehingga aksesnya menjadi 100%,” tutur Baramsah dengan bangga.  SPAM yang dibangun Pamsimas berfungsi baik. Kini seluruh warga (100%) Kampung Ekan yang berjumlah 495 jiwa telah mendapatkan akses air Pamsimas melalui 135 sambungan rumah.

Tahun 2020 pemerintah desa berencana melakukan musyawarah dengan warga untuk pengadaan meteran air bagi 135 SR yang dibiayai dari dana desa. Musyawarah juga akan mengambil keputusan untuk membuka usaha air isi ulang dibawah naungan BUMDesa untuk dipasarkan di Kecamatan Pining dan sekitarnya.

Setelah 100% akses air minum tercapai, Kampung Ekan bergerak unuk mewujudkan 100% akses sanitasi melalui pengadaan jamban sehat bagi warga yang belum memiliki. Untuk itu, tahun 2019 pemerintah desa menggelontorkan dana desa untuk pembangunan 100 unit closet dan saptic tank termasuk menyediakan bahan dan dibayar HOK-nya (Hari Orang Kerja) bagi warga masyarakat yang mengerjakan.

“Yang punya lahan diberikan closet dan septic tank, dikerjakan sendiri oleh masyarakat penerima septic tank dan dibayarkan HOK-nya,” ujar M Aris, Ketua KPSPAMS Desa Ekan.

Dua tahun sudah KPSPAMS mengelola SPAM desa yang dibangun Pamsimas.  M Aris, Ketua KPSPAMS Kampung Ekan bersama pengurus lainnya, telah menjalankan tugasnya dalam melakukan pengelolaan air minum termasuk memungut iuran air dari masyarakat. Iuran air diberlakukan flat atau pro-rata sebesar Rp 10.000 per SR per bulan. Tahun 2020 iuran rencananya akan dinaikkan menjadi Rp 15.000 per SR per bulan, namun dibatalkan berdasarkan kesepakatan KPSPAMS dan pemerintah desa seiring merebaknya virus COVID-19. Setiap bulannya KPSPAMS mampu mengumpulkan iuran sebesar kurang lebih Rp 2,4 juta, yang mencukupi untuk menutup biaya operasional dan perbaikan pipa yang bocor

Pengurus KPSPAMS Desa Ekan bekerja secara ikhlas untuk melayani warga sehingga tercukupi kebutuhan airnya. “Sampai saat ini pengelola KPSPAMS belum menuntut gaji dalam mengurus air minum dan sanitasi di desa,” ucap M Aris saat ditemui Tim Pamsimas Kabupaten Gayo Lues, Sabtu (04/07).

M Aris menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa dibawah pimpinan Penghulu Baramsah, yang telah mendukung penuh peningkatan akses air minum dan akses sanitasi termasuk pembangunan 100 unit closet dan septic tank dengan mengalokasikan dana desa setiap tahunnya.

Musafrin, SKM, District Coordinator (DC) Pamsimas Kabupaten Gayo Lues bersama dengan DFMA, Ismail, SE yang melakukan monitoring ke Desa Ekan, Sabtu (04/07) membenarkan, Desa Ekan telah mencapai 100% akses air minum maupun akses sanitasi.

Capaian gemilang 100% akses ini tidak lepas dari dukungan Pemerintah Daerah Gayo Luwes dalam menyediakan anggaran serta dukungan Pemerintah Desa Ekan dalam mengalokasikan dana desa untuk pembangunan sektor air minum dan sanitasi di perdesaan. Semoga pelayanan air minum di Desa Ekan terus berlanjut dan pengembangan sarana terus dilakukan untuk kemaslahatan yang lebih luas. (Musafrin, SKMDC Gayo Lues/Bahagia Ishak-CoPC Aceh/Harono Karyatin-Media Sp PAMSIMAS).