Sekadau, Kalimantan Barat – Adalah Desa Menua Prama di Kecamatan Belitang dan Desa Sekonau di Kecamatan Sekadau Hulu, keduanya di Kabupaten Sekadau, yang untuk pertama kalinya mendeklarasikan Desa SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan) di kecamatan masing-masing. Desa Menua Prama mendeklarasikan sebagai “Desa SBS” pada bulan Agustus, disusul Desa Sekonau pada bulan September 2019.

Delarasi SBS yang diikuti komitmen penandatanganan komitmen untuk melanjutkan Pilar Kedua STBM (Cucu Tangan Pakai Sabun/CTPS) oleh kepala desa, turut dihadiri Bupati Sekadau, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau St. Emanuel, SKM, Forkopimka, Kepala Puskesmas, Kades se-Kecamatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan elemen masyarakat lainnya.

“Sanitasi atau kesehatan lingkungan merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat,” ucap Bupati Sekadau Rupinus, SH, MSi saat membuka Deklarasi SBS di Desa Sekadau.   “Dengan menyediakan air bersih, mempunyai jamban keluarga, mengelola sampah dengan benar dan mempunyai sarana pembuangan limbah, didukung dengan perilaku hidup bersih dan sehat, akan dapat menciptakan keluarga yang sehat,” tambah Bupati.

Bupati menyampaikan terima kasih kepada Panitia atas kerjasama yang baik antara instansi pemerintah maupun TNI dan Polri sehingga kegiatan Pamsimas di Desa Menua Prama dapat berlangsung aman, lancar dan kondusif.

Bupati berharap, dengan deklarasi ini masyarakat terus meningkatkan pola hidup sehat. “Masyarakat harus terus mendukung kegiatan ini, karena sangat baik bagi masyakarat itu sendiri,” tandas Rupinus.

“Desa Menua Prama merupakan desa pertama yang mewakili Kecamatan Belitang yang mendeklarasikan SBS,” papar Camat Belitang. Hal yang sama juga disampaikan Plt. Camat Sekadau Hulu, Uden, SSos, yang menyatakan Desa Sekonau yang pertama mendeklarasikan SBS di wilayahnya.

Kepala Dinas Kesehatan St Emanuel yang mendampingi bupati menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesehatan, yakni 40% dari lingkungan, 30% dari perilaku, 20% dari pelayanan kesehatan, dan 10% dari keturunan. “Faktor lingkungan yang sehat merupakan faktor terbesar dalam mempengaruhi kesehatan keluarga. Untuk itu, jika ingin keluarga kita sehat, masyarakat sehat, kita harus bisa mewujudkan lingkungan yang sehat,” pesan Emanuel. “Desa Menua Prama sudah bisa membuktikan sebagai desa dengan skala bebas dari kebiasaan BABS (Buang Air Besar Sembarangan),” tambahnya.

Lasarus, Kepala Desa Menua Prama menyampaikan terimakasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir, dan menyatakan siap menjadi ‘Desa Mandiri’.

Mencapai Desa SBS tidaklah mudah, perlu proses dan kerja keras dari semua pihak. Adanya program Pamsimas, secara perlahan masyarakat mulai meninggalkan kebiasaan buruk BABS. Semua ini bisa terlaksana dengan adanya pendekatan CLTS (Community Led Total Sanitation) melalui pemicuan yang dilakukan secara rutin dan monitoring pasca pemicuan yang melibatkan seluruh masyarakat, mulai dari kepala desa, BPD, toma/toga, bidan desa, sanitarian Puskesmas dan Tim Pamsimas.

Kisah warga Desa Sekonau lebih miris. Desa lokasi Pamsimas tahun 2017, hanya memiliki akses sanitasi 45%, bahkan sebanyak 232 KK masih BABS. Desa terbagi ke dalam empat dusun, salah satunya Dusun Segiam Hulu dengan akses sanitasi sangat miris, hanya ada 3 KK yang memiliki jamban pribadi, selebihnya melakukan praktik BABS.

Dusun Segiam Hulu sangat tertinggal dibandingkan tiga dusun lainnya. Hal tersebut nampak pada infrastuktur yang terbangun dimana akses dari dusun ke desa masih berupa jalan tanah. Saat musim hujan, akses ke dusun tersebut sangat sulit, ada beberapa titik harus melewati aliran sungai tanpa jembatan, tidak ada listrik, dan belum memiliki sarana air minum. Tidak ada sekolah dasar di dusun ini. Fasilitas sekolah dasar ada di desa dengan jarak tempuh ± 10 Km, atau ditempuh dengan waktu 1,5 jam berjalan kaki. Sanitasi masih buruk, dan masyarakat masih mengkonsumsi air sungai yang tercemar limbah dari aktifitas perkebunan kelapa sawit. Kondisi diperparah dengan minimnya petugas kesehatan, hanya ada satu orang bidan desa untuk melayani empat dusun. Itu sebabnya angka diare masih cukup tinggi.

Dusun Segiam Hulu menjadi sasaran utama kegiatan Pamsimas di Desa Sekonau.  Pamsimas berhasil membangun broncaptering, jaringan perpipaan dimana air dialirkan secara grafitasi dengan memanfaatkan sumber air baku yang berada di perbukitan sejauh ± 4,2 Km dari permukiman. Pamsimas juga membangun Sarana CTPS di SDN 13 Sekonau. Untuk menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dilakukan kegiatan promosi PHBS di sekolah dan di mayarakat, serta kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas pelaku.

Dengan terbangunnya SPAMS di Dusun Segiam Hulu dan air mulai mengucur ke rumah warga, maka program pembangunan jamban pribadi melalui bantuan stimulan bahan bangunan dari APBDes, dan promosi kesehatan di masyarakat, dapat terlaksana dengan baik. Makanya tidak mustahil Dusun Segiam Hulu yang tadinya akses sanitasi hanya 5%, kini seluruh warga dusun telah memiliki jamban pribadi (100%). Artinya, diperlukan waktu tidak sampai dua tahun pasca Pamsimas untuk menjadi Desa SBS. Luar biasa!

Kepala Desa Sekonau, Yosef menuturkan, secara geografis desanya berada dipinggir sungai. Kegiatan SBS ini kata dia, sangat membantu dalam mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih baik dalam memperhatikan kesehatan. Ia menyampaikan terima kasih kepada Fasilitator Masyarakat program Pamsimas yang sudah mendampingi masyarakat dalam pelaksanaan program dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kegiatan Stop BABS warganya. “Masyakarat Desa Sekonau berkomitmen membangun jamban, karena sebelumnya masih banyak masyarakat yang belum memiliki jamban keluarga. Kini, tiap rumah sudah memiliki jamban,” ujar Yosef.

Capaian Desa Sekonau/Dusun Segiam Hulu tentu dengan proses yang lama dan tidak mudah, karena harus mengubah pola hidup sehat masyarakat. “Dengan deklarasi ini menjadi contoh untuk desa-desa lain di Sekadau Hulu agar mampu melaksanakan kegiatan Stop BABS,” kata Uden, Camat Sekadau Hulu

Kegiatan ini diakhiri dengan penandatanganan Prasasti SBS dan komitmen masyarakat yang siap untuk menjalankan pilar kedua STBM, yaitu Cuci Tangan Pakai Sabun.

Pembelajaran yang dapat dipetik dari pencapaian SBS dua desa di Kabupaten Sekadau adalah merupakan sinergi tiga komponen STBM:  Demand – Suplay – Enabling.  Capaian tersebut tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten dengan keluarnya Peraturan Bupati (“Perbup”) No. 51 Tahun 2017 tentang “Gerakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat”. Semoga kedepan akan muncul desa-desa SBS yang baru. (Saseno Sasmita, ST – DC Sekadau/Hartono Karyatin-Media Sp PAMSIMAS)