Kuningan, Jawa Barat – Menyelusuri Desa Lebakherang Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan ibarat menyusuri kembali jejak sejarah yang dialami oleh masyarakatnya. Dimulai sejak peradaban hindu yang ditandai oleh adanya jejak ‘petilasan’ (jejak sejarah) berupa makam yang dipercaya sebagai makam Ratu Bungsu era jaman hindu.  Pada era perkembangan awal Islam, era kolonialisme hingga perang kemerdekaan, masyarakat Desa Lebakherang ternyata bagian dari sejarah perjalanan republik dari masa ke masa.

Desa Lebakherang terletek di sebelah barat daya ibu Kota Kecamatan Ciwaru,  berada pada ketinggian 250-300 dpl, dan beriklim tropis dengan suhu udara antara 21–32 derajat Celcius.   Desa seluas 182.170 Ha terbagi dalam 3 Dusun, 3 RW dan 10 RT, dihuni oleh 391 KK (2018) atau 1.193 jiwa dengan kepadatan penduduk 645 jiwa per Km2.

Seperti pada umumnya pedesaan dengan kontur pegunungan kadang mengalamai keterbatasan air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.  Didorong atas keprihatinan tersebut masyarakat Desa Lebakherang mengajukan program Pamsimas pada tahun 2015. Kegiatan program Pamsimas dijalankan dengan dukungan penuh dari berbagai pihak dengan BLM sebesar Rp 220 Juta,  incash sebesar Rp 11 Juta, dan inkind Rp 44 Juta.

Kasdi, Sekretaris KPSPAMS ‘Tirta Herang’ Desa  Lebakherang menceritakan, sebelum ada program Pamsimas penduduk desa sedikit mengalami keterbatasan akses air minum saat musim kemarau.  Sampai sekarang saat kemarau datang debit air yang ada masih dianggap kurang, sehingga para pengelola masih mencari cara yang lebih efisien untuk menambah debit air, dintaranya mencari mata air lain atau dengan opsi pengeboran. Sumber air yang digunakan saat ini berasal dari tiga mata air, yaitu Cimaung, Cigintung dan Citangkupa yang berada dalam wilayah desa.

Pada awalnya KPSPAMS hanya melayani sambungan rumah (SR) 70 unit, namun sampai tahun 2019 ini telah bertambah menjadi 257 sambungan.  Peningkatan sambungan rumah ini tidak lepas dari kinerja KPSPAMS “Tirta Herang” yang diketuai Dasrim dan dukungan masyarakat dan pemerintah desa.

Dengan tarif air yang berlaku flat mulai dari Rp 1.500 hingga Rp 3.000 perbulan dengan jumlah sambungan rumah sebanyak 257 unit, setiap bulannya terkumpul iuran Rp 1,6 Juta.  Uang iuran yang terkumpul dibelanjakan untuk biaya operasional dan pemeliharaan (60%), dan sisanya 40% dialokasikan untuk PAD, sosial dan investasi.

Atas capaian kinerja tersebut, tahun 2016 KPSPAMS ‘Tirta Herang’ mendapat alokasi dana APBDes untuk pengadaan watermeter sebanyak 45 unit, dan tahun 2017 mendapat program Hibah Air Minum Pedesaan (HAMP) dalam bentuk pemasangan watermeter 116 unit.  Di tengah upaya untuk terus memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat, KPSPAMS ‘Tirta Herang’ mendapatkan alokasi APBDes sebesar Rp 30 Juta yang dimanfaatkan untuk perbaikan Intake (bak pengumpul air) yang mengalami kerusakan akibat bencana alam di tahun yang sama.

Banyak suka dan duka yang dialami Pengelola KPSPAMS selama mengelola sarana air minum dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Seperti diceritakan Anengsih, Bendahara KPSPAMS, hambatan pengelolaan bisa berasal dari alam seperti longsor dan banjir, serta hambatan dari masyarakat seperti seretnya pembayaran iuran dan perusakan sarana oleh tangan jahil. Hambatan lain yang tak kalah berat,  kurangnya dukungan regulasi dari Pemdes setempat untuk merevisi tarif dan pengenaan biaya administrasi (abondemen) guna memberikan pelayanan yang lebih baik. Tahun 2018 Pengelola KPSPAMS  mencoba menyampaikan usulan perubahan tarif melalui mekanisme Peraturan Desa (Perdes). Namun sayangnya menurut Kasdi, usulan regulasi yang disodorkan kurang mendapatkan tanggapan positif.  Akibatnya, pendapatan KPSPAMS belum mengalami peningkatan signifikan.

Di balik hambatan yang senantiasa menghadang, tidak menyurutkan ikhtiar para pengelolanya untuk terus berkiprah menyediakan sarana air minum untuk masyarakat. Terbukti hingga saat ini pengelolaan sarana air minum terus berjalan dengan pemeliharaan/pengecekan sarana perminggu, dan kadang incidental saat ada kejadian luar biasa. Pelaporan KPSPAMS terus disusun sebagai bagian dari transparansi dan akuntabilitas. Dan masyarakat terus dilayani dalam menarik tarif dan perbaikan kerusakan. Anengsih mengatakan, hambatan dan kendala akan menjadi media pembelajaran yang berharga untuk menganalisa benang kusut pengelolaan sarana air minum. Interaksi dengan masyarakat, melakukan dialog dan pendekatan positif menjadi energi yang tidak akan surut dalam menjalankan program yang di amanahkan kepada KPSPAMS ‘Tirta Herang’. (Ahmad Rifai-FM CD Kab. Kuningan/Hartono Karyatin-Adv & Media Sp Pamsimas)