Sulawesi Selatan – Selain mengunjungi Papua, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur, Misi Mid-Term Review (MTR) juga mengunjungi Kabupaten Pinrang dan Maros di Sulawesi Selatan.  Misi yang melibatkan perwakilan Bank Dunia, perwakilan Pemerintah Australia/DFAT, Kementerian Desa-PDTT, Kementerian Dalam Negeri/Bina Pembangunan  Daerah dan Bina Pemerintah Desa, Kementerian Keuangan, dan Kementerian PUPR/Satker PAMBM, serta NMC Pamsimas, dilaksanakan medio Februari 2019.

Kegiatan misi di Sulawesi Selatan diawali dengan pertemuan dengan para pelaku Pamsimas wilayah Sulawesi Selatan di kantor Bappeda Provinsi Sulawesi Selatan, dihadiri Pokja AMPL Provinsi, DPMU, Satker PSPAM, dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait lainnya.  Pada pertemuan tersebut, Trimo Pramudji Al Djono dari Bank Dunia menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan Mid-Term Review, dilanjutkan paparan profil Pamsimas Sulawesi Selatan dan dialog capaian dan permasalahan yang dihadapi.  Secara umum capaian perubahan perilaku SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan) di wilayah Sulawesi Selatan  masih rendah dan karenanya perlu dilakukan upaya peningkatan.

Setelah pertemuan di tingkat provinsi, Tim misi melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi lokasi Pamsimas di Kelurahan Pammase Kabupaten Pinrang.  Kelurahan ini merupakan lokasi Pamsimas tahun 2010 dan telah mendapatkan alokasi DAK tahun 2018.  Berkat alokasi DAK tersebut jumlah sambungan rumah (SR) yang semula 128 SR telah berkembang menjadi 600 SR. Untuk keberlanjutan dan pengembangan sarana, mengingat lokasinya berada di kawasan perkotaan/kelurahan, perwakilan dari Kementerian Desa-PDTT menyarankan agar dalam perencanaan menggunakan dana kelurahan yang peraturannya saat ini tengah digodog pemerintah seperti halnya Dana Desa yang sudah lebih dulu diluncurkan.

Dalam pertemuan dengan  stakeholder Pamsimas di Kantor Bappeda Kabupaten Pinrang, Tim misi menyampaikan hasil kunjungannya ke Kelurahan Pammase, dan selanjutnya dilakukan dialog membahas kendala dan permasalahannya.  Bila di tingkat provinsi capaian sanitasi masih kurang, sebaliknya untuk Kabupaten Pinrang,  capaian perubahan perilaku untuk sanitasi sudah cukup baik, namun untuk akses air minum masih kurang.  Untuk itu perlu dukungan yang lebih kuat dari pemerintah daerah mengingat tahun 2019 merupakan tahun terakhir pelaksanaan program Pamsimas regular.

Tim misi menyempatkan mengunjungi Desa Patobong yang merupakan lokasi Pamsimas tahun 2018  yang baru saja mendapatkan dan menyelesaikan program Pamsimas. Realisasi sambungan rumah (SR) baru dua unit dengan menggunakan sumber air baku dari sumur bor.  Sempat terjadi kesulitan saat melakukan pengeboran di lokasi pesisir karena mendapatkan air payau sehingga harus dilakukan pemindahan titik bor.

Dari Desa Patobong rombongan bergerak menuju Desa Ujung Labuang, masih di Kabuaten Pinrang.  Desa Ujung Labuang merupakan lokasi Pamsimas tahun 2010 dan mendapatkan HID tahun 2012. Dalam pertemuan dengan kelompok perempuan beserta perangkat desa, terungkap rencana alokasi dana desa dan bantuan CSR dari Sucofindo tahun 2019 untuk mengembangkan pelayanan air minum.

Setelah dari Kabupaten Pinrang, Tim misi melanjutkan kunjungan ke Kabupaten Maros.  Tim menyambangi Kelurahan Leang-Leang (tahun 2014), Desa Minasa Baji (tahun 2017), Desa Toddolimae (tahun 2018), dan Desa Sambueja.  Pada kesempatan tersebut rombongan melakukan pertemuan di kantor kelurahan/desa masing-masing dan dilanjutkan kunjungan lokasi SAM.  Tim melakukan pertemuan dan dialog dengan perangkat desa/kelurahan, KKM, pengurus KPSPAMS dan perwakilan masyarakat.

Hasil kunjungan ke sejumlah kelurahan/desa, selanjutnya dibahas dalam pertemuan yang melibatkan para pemangku kepentingan di tingkat Kabupaten.   Dalam pertemuan yang dilakukan di kantor Bappeda Kabupaten Maros dihadiri Kepala Bappeda, Kepala Dinas PUPR yang sekaligus merupakan Pjs. Asisten II Bupati, dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dengan kelembagaan Pokja AMPL dan DPMU.

Pengawalan program Pamsimas di Kabupaten Maros dinilai sudah cukup baik dengan telah mengadopsi konsep disain universal yang ramah penyandang disabilitas dan mengembangkan CSR untuk sanitasi seperti yang telah dilakukan di Kelurahan Leang-Leang.  Namun demikian masih ada tantangan cukup besar untuk mengejar ketertinggalan mengingat masih ada sekitar 40% warga yang buang air besar sembarangan (BABS).

Akhir misi MTR di Sulawesi Selatan dilakukan pembahasan dengan melibatkan para pemangku kepentingan Pamsimas tingkat provinsi di kantor Bappeda provinsi Sulawesi Selatan.  Pemerintah Sulawesi Selatan cukup serius dalam mengawal program Pamsimas.  Terkait capaian perubahan perilaku SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan) yang masih rendah, pemerintah daerah memberikan “award” kepada kabupaten yang ada peningkatan akses sanitasi, selain gencar melakukan verifikasi ODF untuk memacu para pelaku sanitasi tingkat kabupaten, kecamatan sampai desa/kelurahan dalam mengejar keteringgalan di bidang sanitasi.

Ke depannya, pihak Bank Dunia mengharapkan ada kemajuan akses air minum, sanitasi dan peningkatan kualitas fisik SAM, serta kualitas pengelolaan berupa layanan dan iuran penggunaan air oleh KPSPAMS. (Agung Wibowo-Regional Managers/Hartono Karyatin-Adv & Media Sp Pamsimas)