Kuala Lumpur – Malaysia.  PAMSIMAS ikut meramaikan perhelatan dunia, World Urban Forum (WUF) yang ke-9, yang digelar di Kuala Lumpur – Malaysia, 7 – 13 Februari 2018.  WUF dengan tema :  Cities 2030, Cities for All :  Implementing the New Urban Agenda, diikuti perwakilan dari berbagai Negara, organisasi non-pemerintah, dan perwakilan lembaga internasional lainnya.

WUF merupakan ajang global terjadinya interaksi antara pembuat kebijakan, pemimpin pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah dan praktisi ahli bidang pembangunan perkotaan dan kawasan pemukiman secara berkelanjutan.

PAMSIMAS memberikan sharing pengalaman dalam menciptakan kawasan permukiman di perdesaan yang sehat melalui program penyediaan akses aman air minum dan sanitasi yang layak sebagai akselerator untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Dalam gelaran mini talkshow stand Indonesia di arena WUF ke-9, sepasang fasilitator program PAMSIMAS, yakni Uriati Zulkifli, Fasilitator dari Kab. 50 Kota – Sumatera Barat dan Afander Ferianus  Adu, Fasilitator Senior dari Kab. Manggarai – Nusa Tenggara Timur (NTT), di hadapan forum antar-bangsa, memaparkan pengalaman melakukan kegiatan pemberdayaan dan mendampingi masyarakat dalam program PAMSIMAS.  Mereka berdua tampil bersama Putri Setyati pengelola program SANIMAS dari Kementerian PUPR.

Kedua fasilitator yang tampil mengenakan pakaian adat sesuai daerah asal, di hadapan audience dari berbagai Negara, tidak lupa menyelipkan pesan promosi daerahnya, termasuk pulau komodo di Nusa Tenggara Timur yang terkenal satwa reptil raksasa.

Mini talkshow persembahan PAMSIMAS memiliki daya pikat tersendiri.  Seperti dituturkan Afander, fasilitator kelahiran NTT, peserta dari Nigeria yang diundangnya sehari sebelumnya, termotivasi hadir karena pemberi materi adalah fasilitator, pelaku kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, dan bukan disampaikan oleh ekpertis atau para ahli sebagaimana ditampilkan booth Negara lain.

Laki-laki dari Nigeria tersebut mengajukan pertanyaan terhadap sarana yang dibangun apakah masyarakat dikenakan biaya atau tidak ? Terhadap pertanyaan ini, Uriati yang merupakan Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Riau memberikan penjelasan.  Masyarakat dikenakan biaya dengan tarif sesuai kesepakatan masyarakat.  Fasilitator hanya memberikan petunjuk bahwa tarif air ditetapkan berdasarkan kebutuhan biaya operasional dan pemeliharaan.  “Iuran berasal dari masyarakat dan digunakan untuk sarana masyarakat.  Jika pun ada kelebihan dari biaya operasional dan pemeliharaan, akan disimpan dalam kas untuk digunakan masyarakat itu sendiri”, jelas Uriati lebih lanjut.

Afandar yang merupakan Sarjana Teknik Sipil menambahkan, perhitungan tarif iuran air mengacu pada nilai investasi sarana terbangun.  Ia mengandaikan, membangun sarana air minum seperti sedang berinvestasi.  Sarana yang dibangun perlu dilakukan pemeliharaan, kalau tidak maka akan rusak.  Iuran yang dibayarkan masyarakat digunakan untuk pemeliharaan sarana terbangun.  Itulah alasannya, kenapa perhitungan iuran harus disesuaikan dengan nilai investasi yang telah dikeluarkan.  Dengan harapan, pada akhirnya BP SPAMS menjadi lembaga mandiri.  Tugas fasilitator adalah mempersiapkan masyarakat dalam mengelola keberlanjutan program untuk memenuhi kebutuhan air, dengan harapan suatu saat nanti masyarakat akan mandiri dan tidak membutuhkan bantuan pemerintah lagi.

Seorang perempuan berjilbab asal Malaysia menanyakan apakah masyarakat yang akan membangun sarana terlebih dulu diberikan training ?

“Ya ada (diberikan training-Red), itulah tugas kami sebagai fasilitator, memberikan training kepada masyarakat agar mereka mampu melaksanakan program dengan baik, tidak hanya training yang bersifat teknikal pembangunan sarana, akan tetapi juga training dalam pembukuan, administrasi dan penguatan kelembagaan”, jelas Uriati fasilitator pemberdayaan kelahiran Kab. 50 Kota.

Seorang laki-laki dari Bangladesh menanyakan keberlanjutan sarana setelah selesai dibangun, mengingat banyak program tidak ada keberlanjutan, dan akhirnya program gagal.

Terhadap pertanyaan itu, Uriati yang menamatkan pendidikan sarjananya tahun 2004, memberikan penjelasan.  Program PAMSIMAS sangat memperhatikan keberlanjutan.  Ada lima aspek keberlanjutan yang harus selalu diperhatikan yakni, aspek teknik, kelembagaan, keuangan, sosial dan lingkungan.  Kelima aspek tersebut harus selalu ada keberlanjutan.

“Untuk menjamin keberlanjutan program, sebagai fasilitator, kami harus melakukan monitoring dan evaluasi minimal sekali dalam tiga bulan.  Jadi setiap lokasi desa binaan tidak ada yang dibiarkan, dilepaskan begitu saja setelah dibangun”, terang Uriati di depan forum antar-bangsa.

Dari berbagai pertanyaan yang disampaikan tergambar pola pertanyaan yang berbeda dari kalangan negara berkembang dan negara maju.  Kemudian seorang peserta bertanya bagaimana caranya melakukan pendampingan kepada masyarakat ?

Terhadap pertanyaan ini Uriati menjelaskan, bahwa fasilitator mempersiapkan perencanaan kegiatan bersama masyarakat selama satu tahun, dan selama  satu tahun pula mendampingi masyarakat saat implementasi sekaligus mempersiapkan masyarakat untuk keberlanjutan program.

Seorang perempuan berkulit hitam dengan tanpa menyebutkan asal Negaranya menanyakan ada tidaknya sasaran kegiatan untuk anak-anak ?

Afander menjelaskan bahwa anak-anak menjadi salah satu sasaran program.  Dijelaskan, membangun anak-anak sedari dini sangat penting, karenanya ada pelatihan khusus bagi masyarakat dan di sekolah khususnya siswa-siswi Sekolah Dasar melalui program promosi kesehatan.  Tujuannya adalah membangun mindset (pola pikir) anak-anak sedari dini agar berperilaku hidup bersih dan sehat, seperti membiasakan cuci tangan pakai sabun.

Sepertinya audience yang hadir dalam talkshow berasal dari berbagai Negara dengan sudut pandang berbeda.  Kebanyakan talkshow di arena WUF menampilkan pembicara ahli atau ekpertis.  PAMSIMAS menyajikan hal yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, dengan menampilkan pelaku langsung kegiatan di lapangan.  Mereka memanfaatkan forum talkshow sebagai ajang pertukaran pengalaman di lapangan dengan berbagai permasalahan yang dihadapi namun tetap dengan spirit perjuangan.  Karenanya setiap penanya selalu memberikan ungkapan apresiasi terhadap peran dan tugas fasilitator yang luar biasa setelah mendapatkan penjelasan/tanggapan atas pertanyaannya.

Penampilan fasilitator PAMSIMAS pada forum dunia tersebut patut mendapatkan acungan jempol.  Penuh percaya diri dan lantang berbicara Inggris, seolah tengah berbicara dihadapan masyarakat desa.  Keduanya secara bergantian memaparkan pengalamannya dalam mendampingi masyarakat maupun merespon setiap pertanyaan dari berbagai Negara.

Seperti dibisikkan ke penulis, Sekretaris Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Ir. Rini Agustin Indriani, MURP yang hadir pada talkshow tersebut,  memberikan apresiasi dan salut.  Sebelum tampil resmi di WUF9, mereka latihan presentasi lebih dari lima kali di hadapan mentor.  Tidak sia-sia, mentoring dan bimbingan yang diberikan oleh Ari Alam (Co-TL PAMSIMAS) dan Wiriasto Herry Septiadi (CD) sekaligus Host mini talkshow, membuahkan hasil.

World Urban Forum (WUF) adalah forum teknis non-legislatif yang diselenggarakan oleh United Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat) yang diselenggarakan sejak tahun 2002.

Forum mengumpulkan berbagai ahli bidang kehidupan dari seluruh dunia. Peserta Forum mencakup, namun tidak terbatas pada, pemerintah pusat, regional dan pemerintah lokal, organisasi non-pemerintah, organisasi berbasis masyarakat, profesional, lembaga penelitian dan akademisi, sektor swasta, lembaga keuangan pembangunan, yayasan, media dan organisasi di bawah PBB dan organisasi internasional lainnya.

Gelaran WUF berikutnya akan dilaksanakan tahun 2020 di kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (Hartono Karyatin – Advocacy & Media Sp. NMC)