Sumba Barat Daya – Desa Kadu Eta Kecamatan Kodi Utara – NTT merupakan daerah kering.  Musim hujannya sangat pendek – Desember sampai awal Maret, selebihnya merupakan kemarau panjang.  Saat kemarau panjang tiba, untuk mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga menebang pohon pisang, lalu melubangi batang dan airnya disadap. Dari beberapa batang pisang yang disadap, diperoleh kurang lebih lima liter air.   Sebelum digunakan terlebih dulu air diproses dengan cara disaring beberapa kali.  Air yang dihasilkan tidak bisa bertahan lama.  Bila disimpan lewat satu hari, airnya jadi bau. Bila dipakai untuk mencuci pakaian, kain putih  berubah menjadi kekuning-kuningan.  Kalau dipakai untuk mandi, wangi (bau) badan jadi tidak enak.  “Orang tidak mau lirik gadis Kadu Eta karena kecantikannya jadi luntur”, tutur Mama Esy (45 tahun), warga desa setempat menceritakan kondisi desa dan masyarakatnya.

Sekarang warga Desa Kadu Eta terutama kaum ibu bisa tersenyum lega.  Tidak ada lagi kecemasan saat akan memasuki bulan April, awal kemarau panjang.  Tiga dari empat dusun di Desa Kadu Eta telah mendapat akses air minum melalui program  Pamsimas tahun 2017.  Sebanyak  103 KK, atau 600 Jiwa mendapatkan akses air minum melalui jaringan pipa distribusi  sepanjang 2.045 meter dengan pipa GIP dan 8 unit keran umum.  Untuk meningkatkan tekanan air dibangun  reservoir menara air setinggi 9 meter.  Sumber air baku diambil dari air tanah sedalam 80 meter yang merupakan bantuan dari Kementerian ESDM (2013).  Sarana tersebut kurang terpelihara dan fungsional karena berada disatu titik.  Dengan bantuan program Pamsimas 2017, sumur bor menjadi  fungsional dan optimal melayani masyarakat banyak melalui jaringan pipa distribusi ke permukiman warga.

Kerja keras dan semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Kadu Eta patut diacungi jempol.  Tokoh masyarakat dan kader desa, seperti Hona Mete (Ketua Satlak), Kornelius Dara Dangga (Ketua KKM), Ibu Mangdalena Tube (Bendahara Satlak), bahu-membahu bersama dengan warga untuk mewujudkan SPAM Perdesaan yang menjadi dambaan.  Apresiasi patut diberikan kepada Markus Rangga Ede (70 tahuh) yang  merupakan tokoh masyarakat, walau sudah usia lanjut tetap memberikan dedikasi untuk memajukan desanya.  Mereka merupakan aset masyarakat desa, dan  telah mendapat ilmu dan pengalaman pembangunan berbasis masyarakat yang didampingi oleh  Fasilitator Masyarkat Pamsimas, Viktor Bernabas Bulu, Herwanto Dappa, dan Gita Susi Loru.

Sarana kini telah terbangun.  Tantangan berikutnya adalah mengelola dan mengoperasionalkan sarana sehingga masyarakat terus terlayani kebutuhan airnya.  Untuk operasional dan pemeliharaan diperlukan bahan bakar solar.  Satu jerigen solar (20 liter) seharga Rp 150.000 hanya cukup untuk operasional dua hari.  Biaya operasional per bulan cukup besar, belum termasuk penggantian suku cadang.

Masalah iuran menjadi tantangan sendiri bagi  Pengurus KP-SPAMS yang menjadi pengelola sarana pasca Pamsimas.  Dengan pendapatan masyarakat yang kecil, apalagi bila harga hasil pertanian menurun,  sehingga berdampak pada penghasilan warga yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan masyarakat berkontribusi (membayar iuran).  Tingkat kesejahteraan masyarakat juga belum merata, masih banyak rumah tua beratap rumbia di Desa Kadu Eta.

Namun sepertinya masalah iuran tidak perlu dipersoalkan lagi. Kaum perempuan yang paling dekat dengan kebutuhan air, memberikan komitmennya dan mencari solusi, antara lain dengan mengatur (mengurangi) uang rokok bagi suaminya.  Mereka menyampaikan air adalah kebutuhan utama dan pijakan supaya sehat, kalau sehat pasti rajin bekerja, untuk menuju masa depan lebih baik.

Untuk itu mereka akan segera melakukan musyawarah dengan pemerintah desa dan warga penerima manfaat.   Jika tidak warga Desa Kadu Eta akan kembali lagi ke batang pisang, tandas mereka!.  (Naftali Umbu Lado Ndaparoka-Co.DC SBD & Maryance Umbu Woza-DEAO SBD/Hartono Karyatin-Advocacy & Media Sp. NMC).