Program Pamsimas III telah menjadi salah satu program andalan nasional (Pemerintah dan Pemerintah Daerah), yang dilaksanakan untuk mendukung dua agenda nasional untuk meningkatkan cakupan penduduk terhadap pelayanan air minum dan sanitasi yang layak dan  berkelanjutan,  yaitu  (1)  100-100,  yaitu  100%  akses  air  minum  dan  100%  akses sanitasi, dan (2) Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Salah satu Komponen  Program Pamsimas  adalah Komponen 2 Peningkatan Perilaku dan Layanan Hidup Bersih dan Sehat Melalui STBM. Tujuan Komponen ini adalah untuk membantu masyarakat dan institusi lokal dalam pencegahan penyakit yang disebabkan dan atau ditularkan oleh sanitasi buruk dan air yang tidak bersih (seperti diare), melalui: (1) perubahan perilaku menuju perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan (2) peningkatan akses sanitasi dasar. Promosi PHBS ditujukan pada semua lapisan masyarakat, khususnya kaum perempuan dan anak-anak. Hal ini akan mendukung dan melengkapi komponen pembangunan  sarana  dan  prasarana  air  minum  dan  penyehatan  lingkungan.  Promosi PHBS   dilaksanakan   melalui   keluarga,   institusi   lokal/   desa,   fasilitas   umum   seperti sekolah, tempat ibadah, dan melalui media massa baik cetak maupun elektronik.

Pelaksanaan Komponen 2 dilakukan dengan pendekatan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat)   yaitu   merubah   perilaku   higienis   dan   saniter   melalui   pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan dengan cakupan wilayah kabupaten (district-wide). Pendekatan STBM dilaksanakan melalui proses pelembagaan 3 (tiga) strategi penyelenggaraan STBM yang merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi yaitu: a) Penciptaan lingkungan yang kondusif; b) Peningkatan kebutuhan sanitasi; dan c) Peningkatan penyediaan akses sanitasi. Dengan pelaksanaan tiga strategi secara konsisten diharapkan akses universal air minum dan sanitasi tahun 2019 yaitu 100 % akses sanitasi layak dapat dicapai. Ketiga komponen sanitasi total tersebut menjadi landasan strategi pelaksanaan   untuk   pencapaian   5   (lima)   pilar   STBM   yaitu:   Stop   Buang   Air   Besar Sembarangan (Stop BABS), Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PSRT), dan Pengamanan LimbahCair Rumah Tangga (PLRT).

Dalam   upaya   peningkatan   kebutuhan   sanitasi,   maka   dalam   Program   Pamsimas   III komponen kesehatan mengadopsi Pendekatan pemicuan STBM yang dikembangkan dari pendekatan   pemicuan   CLTS   (Comunity   Led   Total   Sanitation).   CLTS   adalah   suatu pendekatan  partisipatif  yang  mengajak  masyarakat  untuk  mengalisa  kondisi  sanitasi mereka   melalui   suatu   proses   pemicuan,   sehingga   masyarakat   dapat   berpikir   dan mengambil tindakan untuk meninggalkan kebiasaan buang air besar mereka yang masih di tempat terbuka dan sembarang tempat. Pemicuan STBM, sebagaimana didefinisikan dalam Permenkes No.3/2014 adalah cara untuk mendorong perubahan perilaku higiene dan sanitasi individu atau masyarakat atas kesadaran sendiri dengan menyetuh perasaan, pola pikir, perilaku, dan kebiasaan individu atau masyarakat. Pemicuan dapat dilakukan dengan menyerang/menimbulkan rasa ngeri, rasa malu, rasa gengsi, atau perasaan lain yang lebih cocok dengan konteks masyarakat yang dipicu terkait kondisi lingkungannya. Melalui pemicuan ditimbulkan kesadaran bahwa sanitasi (kebisaan BAB di sembarang tempat) adalah masalah bersama karena dapat berimplikasi kepada semua masyarakat sehingga pemecahannya juga harus dilakukan dan dipecahkan secara bersama.

Prinsip   pemicuan   STBM   adalah   tidak   menawarkan   subsidi.   Masyarakat   akan   di “bangkitkan” kesadarannya bahwa masalah sanitasi adalah masalah masyarakat sendiri dan bukan  masalah  pihak  lain.  Dengan  demikian  yang  harus  memecahkan  permasalahan sanitasi  adalah  masyarakat  sendiri.  Di  harapkan dengan  bermula  dari  pemicuan  STBM, kemudian dilanjutkan dengan program kesehatan lainnya seperti program kampanye cuci tangan,  dan  program  kesehatan  lainnya,  peningkatan  kesehatan  masyarakat  melalui perilaku hidup bersih dan sehat dapat terwujud.

Prosedur Operasional Baku (POB) ini adalah prosedur kerja yang dapat digunakan oleh mereka yang akan menfasilitasi masyarakat dengan pendekatan STBM. Siapa pun mereka, baik Fasilitator Masyarakat, Sanitarian, ataupun Staff Dinas Kesehatan, dapat menggunakan POB ini sebagai panduan guna menfasilitasi masyarakat.