Lima Puluh Kota, Sumatera Barat – Di bawah payung langit biru yang terasa begitu dekat di tengah belantara Bukit Barisan, terisolir, jauh dari hiruk pikuk kota, sulit ditempuh, dan tak ada sinyal hp. Di sanalah Jorong Koto Tinggi Kubang Balambak, Nagari Simpang Kapuak, Kec. Mungka Kab. Lima Puluh Kota, berada. Jorong berada pada ketinggian 985-1015 M dpl. di gugusan puncak Bukit Barisan, berawan sejuk. Jorong yang dihuni oleh 730 jiwa atau 205 KK, merupakan lokasi desa Pamsimas 2018 dengan dana APBN. Sekilas jorong ini terlihat seperti negeri di atas awan, seperti dalam buku cerita dongeng.

Layaknya sebuah cerita dongeng, ada Sang Putri yang menjadi tokoh dalam cerita. Adalah Sari Alia, nama Sang Putri. Ia seorang bidan desa yang ditugaskan di jorong Kubang Balambak sejak  Maret 2008, yang saat ini dipercaya menjadi bendahara KKM Lubuak Bulan program Pamsimas. Pertama kali ditugaskan di jorong mendapati jorong dengan kondisi jauh dari harapan; terisolir, hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, jalan tanah nan terjal, tanpa listrik, tak ada sinyal hp, minim air bersih dan sanitasi yang layak. Hal tersebut tidak membuat bidan muda itu patah hati.

Enam bulan pertama tinggal di desa waktu dihabiskan dengan air mata. Gadis muda yang biasa tinggal di kota harus tinggal sendiri di Pusri, daerah terpencil nan sunyi. Rasa takut dan ngeri menghantui ketika ia mendengar cerita masyarakat dari mulut ke mulut tentang rimba yang mengelilingi jorong dihuni Si Raja hutan, lengkap dengan cerita mistik yang melingkupinya.

Hari demi hari ia lalui. Nuraninya terpanggil ketiga mendapati hampir seluruh rumah tak memiliki jamban sehat. Masyarakat masih Buang Air Besar (BAB) ke tobek (kolam ikan), dan proses persalinan tanpa bantuan bidan hanya dibantu oleh dukun beranak. Kondisi memprihatinkan itu yang membuat bidan desa memutuskan bertahan. Jorong sangat membutuhkan kehadiran dan uluran tangannya.  Jiwa pengabdian dalam dirinya mencuat tinggi mengalahkan rasa takutnya. Semangatnya untuk membuat perubahan bergejolak dalam dirinya demi mengubah perikalu masyarakat untuk berprilaku hidup bersih, mengalahkan rasa terasingnya tinggal di jorong yang sepi.

“Mimpi dan harapan yang membuat saya bertahan,” ucap sang bidan berkaca-kaca saat ditemui tim fasilitator. Mimpi itu adalah mewujudkan Jorong Kubang Balambak bukan menjadi dusun yang tertinggal terutama dalam hal kesehatan. “Saya ingin melihat seluruh keluarga di sini memiliki akses air bersih dan Stop BABS. Sekarang banyak kasus diare karena masyarakat tidak mengkonsumsi air layak, air minum dari air hujan, sanitasi yang tidak memadai,” imbuhnya.

Itulah kenapa ketika jorong ini menjadi sasaran program Pamsimas, ia begitu bahagia, karena mimpi mulia bidan desa sejalan dengan program Pamsimas, yakni mewujudkan Akses Universal air minum aman dan sanitasi layak. Hal tersebut ia maknai, seluruh masyarakat Indonesia secara 100% telah memiliki akses air minum aman, tidak ada lagi pemukiman yang kumuh, dan telah memiliki akses sanitasi yang layak.

Buk Bidan Sari, begitulah beliau akrab dipanggil sangat menyadari, berjuang sendiri tidaklah mudah, di tengah masyarakat yang belum memahami arti pentingnya sanitasi. Selama sepuluh tahun mendampingi jorong Koto Tinggi Kubang Balambak, baru 15 KK yang memiliki jamban sehat, itupun sudah melibatkan kesling Puskesmas Mungka. Adanya program Pamsimas, diharapkan dapat mewujudkan harapan dan mimpinya.

Pada 20 Juli 2018 dilakukan kegiatan pemicuan di Jorong Koto Tinggi Kubang Balambak. Sebanyak 25 KK merespon secara positip dan akan segera membangun jamban sehat. “Jamban sehat tak harus mahal,” kata salah seorang warga yang terpicu. Bukan hanya 25 KK, targetnya seluruh KK stop BABS pada akhir tahun ini. Deklarasi ODF di akhir program adalah mimpi bersama ……KKM, bidan desa, Fasilitator STBM, dan Konsultan Kabupaten beserta Tim Fasilitator pendamping. “Bermimpi dan bergeraklah untuk mewujudkannya,” ucap warga memotivasi.

Bagi kami – tim fasilitator pendamping, lokasi jauh dan sulit ditempuh bukan masalah, ketika seluruh anggota tim tidak mengenal kata mengeluh. Jalanan licin yang bisa membuat seseorang terjatuh, tidak lagi menjadi kendala, ketika di ujung jalan sana yang ditemui adalah masyarakat yang ”merasa butuh”. Kami harus bekerja keras bersama masyarakat, bahu-membahu demi merubah perilaku masyarakat, seiring dengan pembangunan fisik yang akan segera dimulai.

Jorong Kubang Balambak memiliki tiga pintu masuk, yakni dari Mungka, Harau dan dari arah Hulu Air Kelok Sembilan, ketiganya merupakan jalan sangat ekstrim. Dari Mungka harus melewati jalanan sempit, hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, dengan pendakian yang tajam dan terjal melewati lereng bukit yang salah satu sisi jalan berupa jurang dalam.

Sedangkan jalur arah Kelok Sembilan merupakan jalur yang lebih aman, akan tetapi masih merupakan jalan tanah tanpa pengerasan di tengah belantara. Jaraknya lebih jauh dan melawti pendakian dan penurunan. Bisa dibayangkan beratnya medan yang harus dilalui ketika musim hujan atau setelah turun hujan.

Jalur terakhir, melalui lokasi Wisata Lembah Harau. Jalur ini paling ekstrim, melewati beberapa anak sungai tanpa jembatan, tikungan tajam di tepi jurang dengan dasar jurang terlihat jelas. Muncul rasa ‘ngilu’ bagi mereka yang takut ketinggian. Saat berada di titik tertinggi di tengah perjalanan, mata akan dimanjakan dengan pemandangan indah di bawah sana. Kelelahan terbayar sudah.

Dari ketiga jalur yang sulit dicapai, bisa dibayangkan ketika jorong tidak memiliki bidan desa. Bagaimanakah masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan?

Meskipun jorong sulit dicapai dengan medan yang cukup berat, namun meyimpan pesona alam yang luar biasa. Di dalam hutan jorong terdapat sebuah air terjun nan cantik yakni air terjun “Lubuak Bulan”. Air terjunnya jatuh ke dalam goa yang berbentuk seperti bulan sabit, masih asri dan belum banyak terjamah tangan manusia.

Keistimewaan jorong adalah kesungguhan masyarakatnya dalam mensukseskan program Pamsimas. Pada setiap proses tahapan kegiatan, masyarakat dan pengurus KKM/Satlak menunjukkan antusiasnya. Sang Putri bidan desa pun, kini tak lagi sendiri. Ia telah dipersunting oleh putra asli Jorong Kubang Balambak. Saat pesta pernikahan tengah berlangsung, saat kedua pengantin duduk di pelaminan, dan Buk Bidan Sari berpakain adat Minang lengkap dengan “Sunting Besar” di kepala, tiba-tiba datang seorang warga yang hendak melahirkan. Sang bidang turun dari pelaminan dengan tetap mengenakan sunting besar di kepalanya untuk membantu proses persalinan. Pengabdian dan dedikasi yang luar biasa tetap ia tunjukkan di tengah hari bahagianya. Dia tetap menjalankan tugas untuk memberikan kebahagian bagi orang-orang yang membutuhkannya.

Semangat bidan desa menginspirasi kami – para fasilitator selaku pendamping masyarakat, untuk berbuat lebih banyak di jorong ini.  Belajar dari ketegarannya, kami berjanji untuk tidak mengeluh menempuh jalan yang jauh menuju jorong. Jika ia pernah dikirim ke jorong seorang diri dan mampu bertahan, tentu kami tim fasilitator selaku pendamping masyarakat harus lebih mampu bertahan. Jangan menyerah, karena selalu ada akhir yang indah bagi jiwa-jiwa yang tidak mudah patah dan menyerah. (Dituturkan oleh Uriati Zulkifli, Novdi Suhanda, Nomi Sandra-Kab. Lima Puluh Kota/Hartono Karyatin-Adv & Media Sp.)