Palembang, Sumatera Selatan – “Kita tidak akan menemukan bubur ayam ditoko besi, dan begitu juga sebaliknya demikian juga ketika kita akan mencari air, ya carilah ditempat yang khusus menyediakan air” Seloroh Ir. Dirmawan dengan gaya santai, salah seorang Ahli Geologi dari alumni ITB yang saat ini mengemban tugas sebagai Tenaga Ahli CMAC dalam mengawal materi Geohidrologi tentang air tanah untuk air baku Program Pamsimas yang berlangsung di Hotel Garuda Mas Palembang pada Acara Rapat Koordinasi Pamsimas III Roms II Provinsi Sumsel.

Menurut Dirmawan, Penentuan titik sumur bor tidak bisa asal-asalan, posisi cekungan air tanah atau CAT menjadi salah satu penentu keberhasilan titik pengeboran untuk mendapatkan sumber air baku. Selain aspek proses pengerjaan dan pengawasan yang tidak tepat “itulah sebabnya betapa pentingnya memahami teori Geohidrologi dengan memperhatikan peta cekungan air tanah atau CAT ketika kita akan menentukan titik pengeboran untuk menemukan sumber air baku, sehingga pekerjaan kita tidak sia-sia dan lebih menjamin kontinuitas sumber air, akan percuma kita melakukan pengeboran, sementara pada titik tersebut tidak terdapat lapisan yang mengadung Aquifer” Tegasnya.

Selanjutnya Dirmawan juga menjelaskan bahwa, titik rawan kegagalan sumur bor selain berada pada wilayah non CAT, juga berada pada perbatasan wilayah CAT . Dimana kondisi potensi air baku di perbatasan wilayah CAT tergantung kondisi Geologis batuan di daerah tersebut. Sehingga masih diperlukan pengkajian lebih lanjut. Sebab itulah ia sangat menyarankan agar lebih aman untuk meghindari kegagalan, maka sebaiknya titik pengeboran berada pada jarak minimal adalah 2 kilometer dari garis batas wilayah CAT ke arah dalam, sementara jarak kedalaman pengeboran minimal adalah 60 meter.

Selain disampaikan pemahaman dasar tentang Geohidrologi, peserta juga diajak uintuk melakukan tanya jawab dan praktek simulasi cara pembuatan peta CAT menggunakan aplikasi Google Earth. Materi yang serius namun disampaikan dengan gaya ringan dan diselingi humor, terlihat mampu membuat peserta yang pada awalnya tampak tegang mejadi lebih rileks, mengingat permasalahan Geohidrologi dan CAT sendiri adalah hal baru di Pamsimas.

Seperti yang diakui oleh Junaidi, salah satu peserta, menurutnya pengetahuan tentang Hidrogeologi memang sudah sepantasnya dimiliki pelaku Pamsimas khususnya bagi para pendamping “Pengetahuan seperti inilah yang kita butuhkan, selain bermanfaat secara khusus dalam implementasi program pamsimas, tapi juga bermanfaat secara lebih luas, walaupun materi yang disampaikan agak berat, tapi karna disampaikan dengan gaya ringan dan humoris jadi terasa ringan di cerna” tuturnya.

Pada sesi akhir materi, Sofiarman Pito selaku PM Pamsimas Roms II Prov.Sumsel menegaskan kembali, bahwa pertimbangan pengunaan Peta CAT sebagai acuan penentuan opsi sumur bor dirasa akan sangat membantu keberhasilan program Pamsimas. “Kami harapkan para peserta dapat mengaplikasikan dilapangan untuk perencanan opsi yang lebih baik.” .Tegasnya.

Sementara itu, dalam arahanya pada sesi pembukaan, Jenton Tambunan yang mewakili Kepala Satker PSPAM Provinsi Sumsel mengingatkan pentingya strategi baru untuk meningkatkan keberhasilan Program Pamsimas melalui pemilihan dan pengerjaan opsi SPAMS, khususnya opsi yang memanfaatkan sumber air tanah dalam. Oleh sebab itu beliau memberikan apresiasi dengan adanya coaching yang dilakukan oleh Tenaga Ahli dari CMAC ” Semoga apa yang disampaikan oleh Tenaga Ahli dari CMAC nantinya dapat meningkatkan pemahaman teman-teman dilapangan sehingga pencegahan terhadap kegagalan opsi sumur bor dapat dilakukan lebih dini.” Tuturnya.

Acara yang berlangsung dua hari dari tanggal 20 sampai 21 Februari 2017 ini sendiri diikuti oleh Seluruh DC,FS dan DEAO dari 13 Kabupaten se-Provinsi Sumsel beserta jajaran Roms II Provinsi Sumsel.(Suloyono,DC Penukal Abab Lematang Ilir;Deddy,CMAC)