Sleman, D.I. Yogyakarta – Wakil Bupati Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, Dra Hj Sri Muslimatun, M.Kes meresmikan sarana air minum perdesaan yang dibangun melalui program Pamsimas tahun anggaran 2018,  dipusatkan di Desa Candibinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman, pada Selasa (29/01).  Peresmian sarana air minum yang dibangun di 10 Desa, diawali dengan pengguntingan pita dan dilanjutkan penandatanganan prasasti.  Kedatangan Wakil Bupati di desa diiringi dengan pasukan “bergodo” Desa  Candibinangun yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam acara penyambutan pejabat daerah.

Acara yang dikemas dalam bentuk Sarasehan  “Peresmian Pamsimas III Tahun Anggaran 2018 oleh Bupati Sleman”, juga dihadiri Setda, Kepala Bappeda, Asisten II bidang Pembangunan Pemda Kabupaten Sleman, Dinas PU, Dinas PMD, Dinas Kesehatan, POKJA AMPL, PAKEM, Camat, Satker PKPAM, PDAM, Pamsimas ROM Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Kepala Desa, KKM dan KPSPAMS, dan Babinsa.

Wakil Bupati Muslimatun pada kesempatan tersebut  mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memanfaatkan air dengan bijak dan memelihara sarana yang sudah dibangun agar dapat berfungsi dengan baik.  Ia  mengapresiasi keterlibatan masyarakat dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengelolaan sarana setelah selesai dibangun.

“Ini berasal dari panjenengan dan untuk panjengan.  Ini kan sudah dari hulu ke hilir dari panjengan untuk panjengan, dari ‘A to Z’ (dikerjakan oleh masyarakat, untuk masyarakat, dari A sampai  Z-RED)”, ucap Wakil Bupati.   “Dari dan untuk masyarakat, tetapi tengahnya itu  agar supaya sampai ke hilir dan selamat semuanya, air harus tetap bersih dari hari ini sampai waktu yang tidak terbatas”, pesan Muslimatun.   Sangat diperlukan yang namanya  ditengah “to” (menuju-RED), perlu pemeliharaan atau maintenance dari hulu sampai ke hilir.  Mengingat sarana dibangun dengan dana APBN, APBD, APBDes dan bahkan ada kontribusi masyarakat, maka wajib di-“uri-uri” (dijaga dan dipelihara-RED).  “Untuk itu diperlukan iuran dari masyarakat”, tambah Wakil Bupati.

Wakil Bupati yang sempat mengadakan diskusi dengan Yuni-anggota KKM  dan warga desa menyampaikan, masyarakat merasa bersyukur dan mengucapkan terima kasih karena  Pamsimas sangat bermanfaat mengingat sebagian besar air di Desa Candibinangun mengandung zat besi (Fe).

“Saya sangat cocok (setuju) masalah iuran harus dirembug dan dirundingkan sesuai kemampuan warga, diawali dengan yang ringan, tetapi jangan sampai sudah nikmat lupa bayar iuran”, ucap Muslimatun dengan bahasa Indonesia logat Jawa saat menyinggung perlunya iuran warga untuk biaya perawatan.    “Nikmat terus tau-tau kejengklok (rusak, tidak bisa digunakan lagi),” tambahnya.  Bila masyarakat sudah merasakan manfaatnya, iuran dapat ditingkatkan/dinaikkan sehingga sarana terus memberi manfaat untuk seluruh warga.

“Saya yakin jika nanti airnya bagus terus, dapat meningkatkan kualitas manusianya, mulai dari dikonsumsi untuk minum karena tidak beresko tinggi, tidak mengandung zat besi.  Bila dipakai untuk cuci muka tidak beresiko terhadap kulit karena sudah tidak terpapar Fe sehingga saluran di seluruh tubuh kita juga akan semuanya bersih.  Jadi dari luar sampai dalam semuanya bersih semua”, jelas wanita pemegang gelas Magister Kesehatan.

“Saya yakin jika proses pembangunan melibatkan masyarakat, maka sarana yang dibangun senantiasa terpelihara dengan baik.  Masyarakat selaku pengguna harus memiliki rasa “handarbeni“ (sense of belonging) atas sarana yang telah dibangun”, imbuh Wakil Bupati

Mengakhiri sambutannya, Wakil Bupati berpesan agar seluruh aparatur terkait dan semua anggota masyarakat untuk dapat memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana sesuai peruntukannya.  Sarana perlu dijaga dan dirawat agar terus berfungsi dan berkelanjutan.

Kepala Bappeda Kabupaten Sleman, Kunto, yang juga hadir di acara menyampaikan, pelaksanaan program Pamsimas tahun 2017 berjalan dengan baik, standarnya juga bagus. Bahkan, Kabupaten Sleman mendapat penghargaan sebagai salah satu percontohan design universal sarana Pamsimas yang ramah bagi penyandang disabilitas. Sarana Pamsimas yang dibangun di Desa Bokoharjo merupakan satu satunya bangunan yang ramah bagi penyandang disabilitas. Kabupaten Sleman sendiri pada tahun 2017 telah mendeklarasikan ODF (Bebas Buang Air Besar Sembarangan/Bebas BABS). Hingga 2018 ini sebanyak 37 Desa atau 20% dari total desa di Kabupaten Sleman dinyatakan bebas BABS.

Penyediaan air minum yang aman menjadi prioritas pembangunan di Kabupaten Sleman dalam upaya mencegah peningkatan angka stunting (pertumbuhan kerdil-RED). Air merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat dan menjadi salah satu faktor utama dalam mencegah stunting. Pamismas benar-benar dihajatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan manfaatnya sudah mulai dirasakan masyarakat.

Sementara itu, Camat Pakem, Suyatno, SSos, MM pada kesempatan tersebut mengapresiasi seluruh Pemerintah Desa yang telah mengalokasikan APBDes untuk mendukung program Pamsimas sehingga sangat mempengaruhi kinerja KKM dan Satlak.  Desa Candibinangun merupakan 1 dari 10 desa yang diresmikan yang memiliki komitmen tinggi dengan mengalokasikan APBDes hingga Rp 145 Juta. Desa-desa lainnya: Wonokerto, Sindumartani, Pakembinangun, Lumbungrejo, Harjobinangun, Sumbersari, Desa Argomulyo, Desa Sendangarum, juga mampu menganggarkan APBDes untuk penanganan air minum di dusun masing masing. Total APBDes yang digelontorkan untuk mendukung program Pamsimas di 10 Desa sebesar Rp 630,86 Juta.

“Semoga dengan Pamsimas ini akan dapat memicu semangat kami untuk memprioritaskan AMPL serta mencegah stunting di Kabupaten Sleman yang masih cukup tinggi”, ucap Camat Pakem.

Pamsimas sebagai salah satu bentuk upaya Pemerintah Kabupaten Sleman untuk menjadikan masyarakat sejahtera, mandiri dan berbudaya. (Rini Yuliasning-DC Sleman/Hartono Karyatin-Adv & Media Sp Pamsimas)