“Untuk menangani kesulitan air minum warga, pemerintah Desa Mamala merencanakan pembangunan sumur bor sebanyak 3 unit pada tahun 2018 ini, mudah-mudahan dapat mengurangi beban warga masyarakat”. Ramli Malawa, Raja sekaligus Kepala Desa Mamala.

Maluku -Air sama dengan kehidupan, bila saja air tidak tersedia maka  kehidupan itu   akan berhenti. Sejak pertama kali manusia menginjakkan kaki dipermukaan bumi maka kebutuhan mengenai air, baik untuk keperluan minum, mandi, dan mencuci adalah kebutuhan yang utama. Sama pentingnya dengan nafas kita yang setiap hari keluar – masuk melalui indera pernafasan, yang ketika tidak lagi berfungsi maka pada saat itu kehidupanpun akan berhenti. Analogi ini mengindikasikan bahwa tanpa air semua akan berakhir. Ingin dikatakan bahwa keberadaan air sangat besar pengaruhnya di dalam kehidupan manusia di muka bumi.

Itulah kira-kira gambaran yang dijumpai oleh Tim Advisory Pamsimas III, Endang SR. dan Desy bersama Nur Assaggaf, Kabid PMD Dinas PMD Provinsi Maluku, serta LGS Provinsi Maluku, Muhammad Rustam pada saat melakukan kunjungan ke Desa Mamala Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah tanggal 5 Juli 2018. Dalam kunjungannya yang diterima langsung oleh Kepala Desa Mamala sekaligus sebagai Raja Mamala dan Ibu bersama dengan segenap aparat desa, pengurus KKM dan beberapa unsur masyarakat lainnya di desa tersebut, Endang  menyampaikan bahwa, “ kehadiran kami di Desa Mamala bersama dengan Kabid PMD Provinsi Maluku, Ibu Nur dan TA LG ROMS Pamsimas Maluku Mas Rustam adalah untuk menyampaikan bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama kami akan melaksanakan Pelatihan Pemda kluster Provinsi Maluku dimana Desa Mamala ini di posisikan sebagai lokasi untuk kegiatan studi lapangan. Olehnya karena itu kami hadir memberikan informasi kepada Bapak Kepala  Desa Mamala selaku Bapak Raja di desa ini sekaligus meminta izin  untuk ditempati desa ini melakukan studi lapangan.”

Kehadiran Program Pamsimas dimaksudkan untuk membantu warga masyarakat mengatasi permasalahannya terutama yang berkaitan dengan pelayanan air minum dan sanitasi. Selain itu, konsep pemberdayaan  masyarakat yang melekat pada program ini dimaksudkan sebagai strategi pelaksanaan kegiatan untuk membangun masyarakat agar sadar secara kritis dalam melihat keadaan lingkungannya. Kesadaran yang tumbuh dari masyarakat diharapkan dapat mendorong prakarsa dan swadaya warga dalam melakukan kegiatan di desanya. Endang juga menegaskan,”Pamsimas tidak semata-mata menangani air minum tetapi juga sanitasi masyarakat, karena itu pembangunan MCK (Mandi Cuci dan Kakus), CTPK (Cuci Tangan Pakai Sabun) bagi anak di sekolah, kegiatan pemicuan jamban sehat  semua dimaksudkan untuk mendukung kegiatan sanitasi tersebut. Mengenai pelayanan air minum bagi warga masyarakat, tentu diharapkan agar berlanjut terus–menerus, perlu ada partisipasi warga dalam memberikan kontribusi berupa iuran pemakaian air yang dikelola oleh KPSPAM desa, bagaimana menetapkan besaran iuran tersebut harus disepakati bersama dengan warga melalui keputusan bersama masyarakat ”. Lebih lanjut dikatakan, “Dalam kegiatan studi lapangan nanti kami berharap dari Kepala Desa kiranya berkenan memberikan informasi mengenai perkembangan kegiatan Program Pamsimas di desanya. Selain itu kami juga menyampaikan kiranya KPSPAM dan Panitia Pelaksana Kegiatan berkenan memberikan informasi  masing-masing mengenai pelaksanaan tugas – tugas pengawalan pembangunan SPAMS, dan proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan pembangunan SPAMS di desa”.

Mendapat kunjungan dari Tim Advisory Pamsimas, Kepala Desa Mamala Ramli Malawat menyampaikan ucapan terima kasih atas kepercayaan penuh yang diberikan oleh Program Pamsimas untuk menempatkan kegiatan studi lapangan di Desa Mamala. Kepala Desa yang biasa di panggil Bapak Raja tersebut mengetengahkan, “kalau berbicara tentang pengambilan keputusan maka di desa ini ada lembaga sekaligus sebagai forum pengambilan keputusan yang di sebut “Saniri”, pengurus Saniri terdiri dari para tokoh masyarakat dan unsur masyarakat lainnya. Namun demikian untuk menjalankan keputusan Saniri harus juga disepakati oleh warga masyarakat, terkait dengan Program Pamsimas, dapat kami jelaskan bahwa, warga masyarakat sudah mengakses air, namun demikian iuran warga belum berjalan, meteran air juga belum ada, karena belum ada payung hukumnya dari desa. Payung hukum desa ini ditetapkan di dalam Forum Saniri tersebut”. Kepala desa melanjutkan, “Di Desa Mamala ada masalah berkaitan dengan suplai air ke bak penampungan terutama pada saat musim hujan, karena pipa air macet, dipenuhi dengan lumpur sehingga warga tidak mendapat pasokan air dari bak penampungan tersebut, beda halnya ketika musim kemarau air mengalir dengan lancar”.  Dalam kesempatan terpisah, Ibu Rosna Malawat, salah seorang warga Desa Mamala menuturkan, “Untuk memenuhi kebutuhan air minum, warga mengambil air bersih dari “Air Besar” dengan harga Rp. 1.000 per dirigen”.  Ramli Malawat yang telah menjabat  Kepala Desa Mamala selama 3 tahun, kembali mengatakan, “untuk menangani kesulitan air minum warga, Pemerintah Desa Mamala merencanakan pembangunan sumur bor sebanyak 3 unit pada tahun 2018 ini, mudah-mudahan dapat mengurangi beban warga masyarakat”.

Nur Assagaf memberikan penekanan tentang kelembagaan desa seperti KKM, KPSPAMS, Satuan Pelaksana Kegiatan yang memegang  peran penting dalam kegiatan Pamsimas di desa. “Lembaga-lembaga desa tersebut merupakan simbol kepedulian masyarakat desa yang berperan membantu menyelesaikan berbagai masalah yang muncul di desa terutama yang berkaitan dengan air minum dan sanita bagi masyarakat.” Kepedulian ini perlu dijaga dan dirawat agar tidak mengalami kelunturan sehingga warga masyarakat lainnya dapat merasakan manfaatnya.  Kabid PMD pada Dinas PMD Maluku ini menegaskan kembali bahwa, “Untuk menangani persoalan air minum dan sanitasi masyarakat di desa melalui Program Pamsimas, dibutuhkan data yang akurat, agar perencanaan masyarakat menghasilkan program dan kegiatan yang  tepat serta dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.”

Dalam kesempatan tersebut, Endang kembali menuturkan, “Hasil perencanaan desa melalui Pamsimas dapat dilihat pada dokumen PJM ProAKSi (Perencanaan Jangka Menengah Program Air Minum, Kesehatan, dan Sanitasi) dan RKM (Rencana Kerja Masyarakat) yang disusun oleh warga masyarakat setempat, namun demikian PJM Pro AKSi ini tidaklah cukup untuk dibiayai apabila tidak sinkron dengan RPJMDesa sehingga perlu dilakukan sinkronisasi PJM ProAKSi dengan RPJMDesa dan RKP desa. Selain itu kelembagaan yang ada di desa seperti KPSPAMS bertanggungjawab menyusun bisnis plan yang mengurusi air minum dan sanitasi masyarakat”.  Selanjutnya, Advisory Pamsimas tersebut menjelaskan kepada Kepala Desa bahwa pada pelaksanaan Studi Lapangan nanti, kami  meminta perkenan Kepala Desa  untuk memberikan kata sambutan selain mempresentasekan perkembangan kegiatan Pamsimas di desa. Ketersediaan kader masyarakat memberikan laporan perkembangan kegiatan yang dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Kami selalu berharap agar kehadiran Program Pamsimas dapat memberikan kesejukan kepada warga masyarakat desa”, kuncinya, ujar Muhammad Rustam – LGS ROMS 17 Maluku. (Muhammad Rustam, LGS Provinsi Maluku;Deddy S –WDA NMC)