Mojokerto, Jawa Timur –  Salah satu tujuan dari proses perencanaan di masyarakat pada Program Pamsimas adalah membantu masyarakat dalam mengembangkan pengelolaan pelayanan sarana air minum dan sanitasi yang berkelanjutan dan digunakan secara efektif oleh masyarakat sendiri.

Methodology for Participatory Assessments (MPA) dan Participatory Hygiene and Santiation Transforrmation (PHAST) adalah suatu metodologi yang digunakan dalam Perencanaan kegiatan dalam Pamsimas adalah  untuk membantu masyarakat, pelaku program, dan pengambil keputusan untuk mencapai keberlanjutan dan pemerataan pelayanan dengan melibatkan semua pihak dan dapat melakukan identifikasi masalah dan analisis situasi dengan melibatkan pengguna pelayanan utama yaitu kelompok masyarakat baik laki-laki, perempuan, kaya dan miskin.

Proses perencanaan SPAMS berbasis masyarakat yang dilaksanakan dalam kegiatan Pamsimas memiliki perangkat-perangkat yang satu sama lain saling terkait dan sangat menentukan aplikatifnya perencanaan tersebut memberi pengaruh pada percepatan pencapaian Universal Akses dan keberlanjutan hasil kegiatan.

Salah satu perangkat yang sangat penting adalah Peta Sosial, pada perangkat ini divisualisasikan kondisi desa dari berbagai situasi, sarana pelayanaan umum, kependudukan, akses air minum, akses sanitasi bahkan sampai klasifikasi kesejahteraan masyarakat

Pada proses IMAS 1 ( Indentifikasi Masalah Analisis Situasi ) pada tahap 1 proses pembuatan Peta Sosial telah dimulai dengan memuat data-data umum kondisi desa, Informasi minimum yang diharapkan: 1). Jumlah, jenis, dan lokasi semua sumber air, yang dibuat oleh masyarakat, baik yang tidak maupun melalui proyek sebelumnya; 2). Pembatasan wilayah untuk pemakaian sumber air, mengklarifikasi akses rumah tangga terhadap sumber, terutama titik sumber umum; 3). Rumah yang tidak memiliki akses terhadap berbagai jenis sumber air minum; 4). Jumlah, jenis, dan lokasi sarana sanitasi, baik umum maupun keluarga, menurut yang dibangun sebelum, selama, atau setelah intervensi program/proyek sebelumnya.; 5). Rumah-rumah anggota masyarakat yang berperan dalam Unit Pengelola/ pemeliharaan pelayanan air minum dan sanitasi sebelumnya.

Pada tahap IMAS 2 setelah dilakukan diskusi dalam penentuan klasifikasi kesejahteraan masyarakat kemudian dilakukan proses Review Peta Sosial yang melibatkan masyarakat, perempuan dan disabilitas dalam proses pembuatannya dengan memanfaat informasi yang tersedia dari peta desa tersebut mengenai: a). Kecukupan dan akses kepada sarana air minum dan sanitasi yang ada, dimana harus diketahui perbedaan antara akses baik, akses rendah dan tidak punya akses yang tergambar dalam peta dan tamapak jelas by name by addres; b). Bila akses kepada sarana air minum dan sanitasi rendah, potensi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kecukupan dan akses kepada sarana air minum dan sanitasi.

Peta sosial dalam Pamsimas bersifat dinamis, bisa direview setiap saat, sehingga kita dapat mengukur gap/selisih antara target dan reasliasi atas cakupan air minum dan sanitasi sehingga penggunaannya sangat menentukan terukurnya perencanaan yang disusun. Pada peta sosial ini kondisi desa ditampilkan secara menyeluruh sebagai dasar perencanaan pencapaian Universal Akses air minum dan sanitasi, dengan kata lain perencanaan 100% dietalasekan pada peta sosial ini, semua pihak dilibatkan dan semua pihak dapat menggunalannya untuk dasar perencanaan pembangunan. (Tiwi Sri Rejeki-DC Mojokerto;Deddy S-WDA NMC)